Membangun Super Tim, Memperkokoh Pondasi Sekolah unggul

Menghasilkan lulusan yang sesuai visi sekolah, tak bisa dilakukan tanpa adanya sebuah kerjasama semua elemen. Butuh sebuah super tim sebagai pondasi membangun nilai nilai keunggulan.

Februari 2003. Gaung akan lahirnya sebuah sekolah unggul di Kota Tasikmalaya, mulai menggema. Menjalar ke setiap penjuru kota melalui spanduk dan iklan media masa. Informasi itu menjadi sebuah magnet, ratusan fresh graduate pun  berbondong bondong mendatangi kampus yang baru selesai dibangun. Tumpukan lamaran menggunung di meja panitia. Sejumlah map lamaran lulusan PTN center of excellence terlihat juga. Asa melahirkan sekolah unggul semakin menguat. Gagasan akan lahirnya sebuah sekolah yang diramu unggul kala itu, menjadi penyemangat. Ratusan peserta test formasi guru sebagai sebuah titik awal daya saing pengelolaan sekolah. Betapa tidak, lebih dari 400 calon pelamar memperebutkan 18 an saja kursi kosong tenaga guru. Cukup ketat untuk ukuran seleksi sebuah sekolah swasta.

Rangkaian test dimulai dari tulis hingga simulasi mengajar digelar. Puncaknya di medio Maret, seluruh peserta simulasi diwajibkan membuat sebuah makalah bagaimana membuat strategi sekolah yang unggul ditinjau dari sudut pandang mata pelajaran yang diampu. Seperti stretegi belajar mapel rumpun IPS agar diterima di PTN top, Belajar bahasa Inggris untuk membuat sebuah custom dan habbit KBM di Al Muttaqin. Maka tak heran, umumnya guru yang terjaring memiliki potensi dasar yang baik. Peristiwa 15 tahun silam itu menjadi pondasi bagi keberhasilan pendidikan di SMA Al Muttaqin masa kini. Tiada hari tanpa diskusi bagaimana membangun sekolah unggul. Sehingga lahirlah sebuah “super tim” penumbuh mimpi. Bagaimana peserta didik mampu memiliki daya saing dan merasakan aura tempat tempat kuliah bergengsi di negeri ini, mampu mengembangkan potensi dan jati diri. Dalam kurun waktu 15 tahun itu pula, sebagai sebuah lembaga pendidikan yang dinamis dan memiliki SDM berkualitas, menyebabkan “hilir mudik” guru. Dalam kurun waktu itu lebih dari 45 guru yang keluar, umumnya menjadi PNS, dosen, ataupun turut suami. Namun tak berpengaruh negatif secara siginifikan kepada sistem. Malah sebaliknya. Tumbuhkembang sekolah ini begitu terasa. “Disnilah perlunya sebuah tim super yang mampu mengawal cita visi sekolah,” tandas Kepala SMA Al Muttaqin Jenal Al Purkon, M.Pd. Menurut Jenal, tim yang super itu sebagai Super Tim terdapat dua kelompok, yakni Super tim pertama adalah unsur manajemen dengan Tim pengembang Sekolah (TPS) dan kelompok kedua, Super Tim guru melalui MGMP sekolah. “Super Tim pertama itu mulai menggagas, mengkonsep, menjalankan, dan mengevaluasi program program unggulan sekolah.  Sedangkan Super Tim kedua, lebih mengarah kepada penguatan metodelogi KBM sebagai

unjuk tombak terdepan dengan para siswa.”  Ujar Jenal. Dengan terbangunnya super tim, kata Jenal, eksistensi guru terjaga. Dari tahun ketahun, seiring perkembangan jumlah siswa, maka guru pun bertambah secara signifikan. Bahkan rekruitmen guru di tahun 2017 kemarin memecahkan rekor. Jumlah pendaftar lebih dari 600. Sementara yang dibutuhkan kurang dari 10 saja. “Perkembangan jumlah tenaga pendidik di SMA Al Muttaqin begitu

terasa. Jika pada awal berdiri  umumnya satu mata pelajaran hanya ada satu guru, maka kini satu mapel itu rerata memiliki tiga guru,” kata Wakasek SDM Diana Arianti, M.Pd. Diana menambahkan, selain jumlah, juga hampir semua guru di SMA Al Muttaqin memiliki latar belakang keilmuan sesuai dengan mapel yang diampu dan untuk kelompok mapel Diknas semua minimal S1.  “Memang ada

beberapa guru yang berlatar belakang S1 non mapel. Namun memiliki kelebihan punya pengalaman praktis sesuai dengan mapel yang diajarkan,” tukas Diana yang menjadi guru SMA AMQ sejak kali pertama berdiri 2003. Senada dengan Diana, In In Kadarsolihin, S.S. Wakasek Kurikulum  menambahkan, pertambahan jumlah guru seiring dengan pengembangan kurikulum khas SMA Al Muttaqin. In In mencontohkan dalam rumpun Pendidikan Agama Islam (PAI). Jika kurikulum Diknas hanya mewajibkan 3 jam perpekan, maka di SMA Al Muttaqin itu rumpun PAI sedikitnya 8 jam dan paling banyak 18 jam, yakni kelas Sains Tahfidz. “Muatan lokal di Al Muttaqin mendorong jumlah guru PAI bertambah. Sebab, ada pecahan PAI seperti Fiqih, Aqidah-Akhlak, SKI, Al Quran, dan Tahfidz,” jelas In In  yang mengawal SMA AMQ sejak pertama berdiri. Tak hanya itu, tambah In In, mapel Diknas pun terdapat ciri khasnya. Sehingga jumlah gurunya bertambah. Seperti bahasa Inggris. “Di struktur diknas itu 2 jam perminggu. Di Al Muttaqin ditambah materi conversation dan juga TOEFL,” tandas In In. Dengan jumlah guru cukup banyak, lantas b a g a i m a n a menggerakkan mutu guru ?. Diana Arianti yang diamanahi Wakasek Bidang SDM, mengawal kualitas SDM guru ini menjelaskan, pola sinergi antarbidang kerja adalah kuncinya. Diana miencontohkan, Bidang Kurikulum itu mengawal melalui super visi akademik. Bidang Kesiswaan mengawal melalui penilaian guru yang disuka siswa melalui Teachers Day Award, Bidang Sarana mengawal dari ketersediaan sarana prasarana untuk optimalnya KBM di kelas, juga di Bidang SDM penguatan spiritualitas melalui pengajian bulan keliling rumah guru.   Bidang ketatusaahan melalui absen kehadiran. “Semua itu kemudian diramu dalam sebuah raport guru. Kepala sekolah merekapitulasi semua potensi dan kinerja semesteran semua guru,” tandas Diana yang pernah menjadi juara ke-1 Olimpiede Guru Nasional Bidang Kimia. Dalam struktur jam KBM, tambah Wakasek Kurikulum In in kadarsolihin, terdapat sedikitnya 3 jam perpekan untuk penguatan kapasitas guru yang terjadwal khusus dan masuk dalam rangkaian jam tugas guru. “Setiap Selasa jam 10 ada penguatan jam pengajian guru dan kajian keilmuan. Waktu ini disediakan khusus bagi guru yang berstatus GTY. Selain itu ada jam mentoring bahasa Inggris. Jam ini untuk penguatan kemampuan bahasa Inggris para guru,” jelas Solihin peraih juara 2 Lomba Guru Berprestasi Kota Tasikmalaya. Semenatara itu, Kepala SMA Al Muttaqin, Drs. Jenal Al Purkon mengungkapkan, selalin tuntutan kinerja yang harus mampu menghasilkan lulusan terbaik dengan program-program sekolah yang formal, maka menggenjot kinerja guru itu, tandas Jenal, perlu ada pendekatan kesejahteraan,  rileksasi,  dan membangun spirit silaturahmi kekeluargaan. “Ini penting untuk membangun kinerja. Maka konsep income gathering atau

kewirausahaan sebagai sumber masukan tambahan penghasilan guru adalah penting. Apalagi Al Muttaqin sebagai sekolah swasta. Dari konsep kewirausahaan yang dikembangkan, maka disisihkan dana untuk wisata guru dan juga keluarga guru melalui Family Gathering,” terang Jenal. Jenal menyadari, membangun kinerja menghasilkan lulusan yang baik bagi sekolah itu harus mampu membangun filosofis kerja guru dengan setumpuk tugas-tugas yang melelahkan, diubahk menjadi sebuah energy positif. “Bagaiamana kerja lelah itu menjadi lillah. Artinya, kerja selelah apapun, semuannya ditujukan untuk mengharap ridho Allah semata, meng-azam-kan diri sebagai ibadah, menghasilkan generasi yang terbaik bagi umat dan bangsa,” tegas Jenal yang mampu menyabet juara 1 kepala sekolah berprestasi 1 Jawa Barat dank e-3 nasional. Semua roda kinerja itu, tandas Jenal, hanya bisa diwujudkan dengan adanya tim kerja sekolah sebagai sebuah super tim. Dengan supertim yang baik menggodok, menjalankan, juga  mengevaluasi konsep program,  maka cita menghasilkan proses KBM terbaik, mengahasilkan lulusan sesuai harapan stakeholder dapat terwujud. “Insya allah SMA Al Muttaqin memiliki supertim kurikulum dan SDM yang baik, ditopang ujung tombak bidang kesiswaan dan sarana yang memadai. Semua bisa mendorong keberhasilan cita visi sekolah,” ucap Jenal optimis. (***AMQ 02)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *