Meraih Bintang Kehidupan

 

Alquran adalah pandangan hidup, pedoman atau petunjuk aturan-aturan hidup yang diturunkan Allah swt kepada manusia yang beriman dan bertakwa. Manusia yang mau melaksanakan semua ketentuan Allah swt dan mau meninggalkan semua yang dilarang Allah swt. Tidak ada paksaan dalam mengikuti petunjuk Allah swt karena sesungguhnya ketaatan dan keingkaran manusia terhadap ketentuan Allah swt. sama sekali tidak akan berpengaruh kepada ke-Maha besaran Allah swt., tidak akan berpengaruh kepada kehebatan Allah swt, Sebab Allah swt pada dasarnya sudah besar, sudah hebat, dan sudah berkuasa.

Tinggal sekarang masalahnya, manusia mau taat akibatnya untuk dirinya sendiri, mau ingkar untuk dirinya sendiri, kalimat anak muda sekarang “lho mau gini boleh mau gitu boleh gak akan ngepek ke gue”. Nah sekarang, apa yang harus manusia lakukan dan sikapi? Duduk berdiam diri melongo saja atau termenung saja menyaksikan kekuasaan Allah dengan segala kehebatan dan ke-Maha besarannya? Terkagum-kagum saja dengan tanpa ada upaya dan reaksi untuk menata dirinya menjadi yang terbaik? Tentu saja tidak.

Manusia yang ingin dirinya berkembang menuju perubahan ke arah lebih baik dan bosan dengan segala kemonotonan hidup akan senantiasa mencari jalan di mana dan ke mana arah menuju kebaikan dirinya tersebut. Manusia yang diciptakan Allah swt. dengan segala potensi fisik dan mental sempurna dibekali daya pikir kritis untuk selalu mengolah fenomena alam beserta seluruh isinya dengan menghubung-hubungkan berbagai peristiwa sehingga menjadi sebuah ilmu, teori, dan kesimpulan yang menyadarkan dirinya bahwa ada sesuatu yang telah menciptakannya dan mengatur kehidupannya sesuai kodrat yang telah terpatri pada dirinya.

Bukti nyata keadaan manusia yang kritis tercatat dalam sejarah kehidupan Ibrahim A.S. Ibrahim yang hidup terpencil di gua pengasingan tergugah pikirannya dengan fenomena alam yang dilihatnya, yang dirasakannya. Beliau terus menerus pikirannya dijejali dengan berbagai pertanyaan yang senantiasa ingin beliau cari tahu jawabannya. Beliau selalu menghubungkan berbagai hal yang terjadi dengan memikirkan apa yang terjadi? Mengapa ini bisa terjadi? Dari mana penyebabnya bisa terjadi? Untuk apa terjadi? dan seterusnya.

Gejolak-gejolak sejuta pertanyaan di benaknya membuat dirinya mencari tahu jawabannya dan potensi diri belaiu kerahkan untuk terekat dalam kodrat keruhiyahan dirinya pada saat di alam lauhul mahfuz. Hal inilah yang mengakibatkan dirinya terbimbing wahyu dengan segala getaran-getaran keimanan hatinya akhirnya beliau sanggup menjawab semua kepenasarannya tentang seluruh alam ini sehingga sampailah beliau pada satu titik kesimpulan bahwa seluruh alam beserta isinya pasti ada yang menciptakan dan mengaturnya. 

Beliau sukses membuat sebuah teori dan epistemologi yang mengantarkan dirinya menjadi manusia unggul dan siap menjadi pribadi matang dan besar untuk menciptakan peradaban baru manusia yang terbimbing petunjuk/ arahan/dan bisikan naluri keilahianNya. Nah, sekarang kita mau bagaimana? K ita juga manusia sama dengan Ibrahim A.S. Apakah kita mau membiarkan diri kita termangu dan hanya terkagum-kagum semata dengan menyaksikan kekuasaan Allah swt? Apakah kita rela membiarkan diri kita tergilas arus perubahan zaman dan terombang-ambing dalam badai kehidupan ini? Sebagai manusia yang sudah Allah takdirkan dinamis- seperti sudah kita pahami bahwa bibit terbentuknya manusia- sel sperma dinamis untuk menembus sel telur- maka selayaknya kita ingat itu bahwa kita diciptakan bukan untuk terdiam, termangu atau terbengong-bengong saja menyaksikan segala fenomena alam ciptaan Allah swt. ini. Oleh karena itu, kita harus bersiaga dengan segala kelengkapan potensi diri yang sudah Allah beri untuk bergerak terus-bergerak terus-berjalan-berlari menuju satu titik- kita fokus pada satu titik yaitu titik keabadian hidup yang sudah Allah swt. ciptakan untuk manusia-manusia taat.

Tidak boleh sedikit pun berpaling kepada hal-hal lain yang membuat kita tergeliincir dan hilang fokus. Seperti ternukil dalam lagu “Meraih Bintang” V ia Vallen berikut ini. Setiap saat – setiap waktu- keringat basahi tubuh- ini saat yang kutungguhari ini kubuktikan-kuyakin akukan menang-hari ini kan dikenang-semua doa kupanjatkan – sejarah kupersembahkan – terus fokus satu titik-hanya itu titik itu-tetap fokus kita kejar-lampaui batas-terus fokus satu titik-hanya itu titik itu-tetap fokus kita kejar dan raih bintang. Capai titik kebahagiaan dan keabadian hidup kembali bertemu dengan Sang Pencipta diri kita semua pada akhir zaman, pada jannah-Nya tempat kita semua yang beriman beristirahat dan bersenang-senang tanpa batas waktu dan ruang dengan kerja keras, kerja ikhlas, kerja cerdas, kerja tuntas dan senantiasa mawas diri (introspeksi). *** Penulis Dra. Enden Nurhaeni Guru Bahasa Indonesia SMA AMQ

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *