Al Muttaqin dan Tantangan Pendidikan Era Industri 4.0

Sebagai lembaga pendidikan Islam, tantangan era industru 4.0 di SMA Al Muttaqin lebih komplek. Sebab akses perilaku dampak teknologi harus diselaraskan dengan nilai – nilai alquran dan sunnah. Dan sebaliknya, pemahaman alquran dan sunnah bagaimana bisa diakselerasi dengan sains dan teknologi namun tetap teguh pada fundamen pendidikan Islami.

Sebuah fenomena sederhana yang begitu terasa nampak sebagai ciri dunia penddikan telah tergerus oleh dampak indutri 4.0 adalah ramainya kiriman online yang diterima para siswa SMA Al Muttaqin. Setiap harinya, puluhan titipan barang hasil belanja online selalu mampir di bagian Tata Usaha. Ramainya kiriman makanan yang dikirim gojek juga mewarnai keseharian para siswa Al Muttaqin.

Fenomena lain yang terasakan dalam pergaulan siswa dengan guru, atau juga mungkin siswa dengan orang tuanya yakni adanya fenome phubbing. Phubbing (Phone Snubbing) adalah sebuah istilah tindakan acuh tak acuh seseorang di dalam sebuah lingkungan karena lebih fokus pada gadged dari pada membangun sebuah percakapan.

Guru ketika melaksanakan KBM, karena HP menjadi pilihan moda pendidikan, menyebabkan siswa lebih konsen kepada HP daripada apa yang disampaikan guru. Lebih jauhnya lagi, dampak era industri 4.0 telah menggelayuti dunia pendidikan adalah semakin mudahnya akses ilmu pengetahun melalui dunia internet. Pengetahuan akan lebih mudah didapat oleh para siswa yang melek media online, ketimbang oleh gurunya yang terpaku kepada bahan ajar yang konvensional.

Kemudahan menjawab soal seperti matematika atau fisika yang dianggap susah, akan begitu cepat didapatkan siswa jawabannya hanya dengan sekali klik layanan aplikasi tertentu. Sebut saja autograph misalnya. Layanan ini akan begitu mudah menjawab soal tentang grafik dalam hitungan detik.

Bandingkan kalau seorang siswa menjawab secara manual. Maka tak heran, era revolusi industri 4.0 juga mengubah cara pandang tentang pendidikan. Perubahan yang dilakukan tidak hanya sekadar cara mengajar, tetapi jauh yang lebih esensial, yakni perubahan cara pandang terhadap konsep pendidikan itu sendiri, bagaimana cara belajar seorang siswa.

Fungsi guru bukan lagi sebagai sentral dalam pembelajaran atau teacher-centered, namun berubah menjadi students-centered dimana guru menjadi fasilitator bagi penyediaan kebutuhan belajar peserta didik dalam upayanya melaksanakan “bagaimana belajar” dengan menyiapkan sumber dan media pembelajaran. Dalam hal ini, seperti yang pernah penulis ikuti, google terus mensosialisasikan pendidikan di era digitalasasi ini dengan adanya google class room.

Siswa dimanapun berada bisa belajar dari seorang guru yang letaknya berjauhan sekalipun. Tak heran layanan seperti ini juga banyak dilakukan oleh sejumlah lembaga nirlaba yang konsen terhadap dunia pendidikan seperti ruang guru, zenius expedia, atau mafikibi center dan sejumlah institusi lainnya. Model pembelajaran seperti ini telah banyak dikembangkan.

Hal ini tidak lain, karena model pembelajaran ini memiliki banyak keuntungan diantaranya adalah biaya teknologi yang relatif murah, penggunaan kelas fisik yang mudah, fasilitas yang portabel “belajar dimana saja dan kapan saja”. Lantas dengan fenomena seperti itu, apa yang harus dilakukan SMA Al Muttaqn yang konsen memproklamirkan diri sebagai pendidikan unggulan ?.

Langkah awal adalah sebagai sebuah institusi, maka SMA Al Muttaqin harus menyamakan perspektif tantangan pendidikan abad 21 dan penguatan literasi bagi semua tenaga pendidikan dan kependidikan termasuk para siswa.

SMA Al Muttaqin harus mampu mengembangkan perubahan paradigma “literasi lama” (membaca, menulis, & matematika) sebagai modal dasar untuk berkiprah di masyarakat, dengan tiga jenis literasi sesuai tuntutan era industri 4.0, yakni

(1) Literasi Data: Kemampuan untuk membaca, analisis, dan menggunakan informasi (Big Data) di dunia digital

(2). Literasi Teknologi: Memahami cara kerja mesin, aplikasi teknologi

(3) Literasi Manusia: Humanities, Komunikasi, & Desain.

Sederhananya, Al Muttaqin mendorong semua sektor penunjang pendidikan dengan digitalisasi. Perpusatakaan sudah harus dikembangkan kearah Digital Library, Layanan absen hingga ulangan harian dikembangkan secara online dan informasi hasilnya dapat diakses setiap saat oleh orang tua siswa.

Tentu layanan digitalisasi ini akan maksimal kalau guru terus mengkreasi dengan “haus” ilmu dan metode terbaik dalam mentransformasi materi pelajaran di ruang ruang kelas. Sebagai sekolah berbasis keislaman, tentu akan sangat prihatin dengan fenoma phubing. Ketika hal ini telah menjamur dikalangan siswa, maka disana telah hilangnya marwah seorang guru.

Siswa telah kehilangan ruh dalam merealisasikan adab adab menuntut ilmu sesuai tuntunan sunnah nabi Muhammad saw. Maka, pengembangan pendidikan tahfidz quran yang telah menjadi ikon, harus diperkuat dan diperketat dengan penguatan pemahaman alquran. Sehingga cahaya alquran menerangi segala aspek kehidupan para siswa.

Perkembangan teknologi ya harus diikuti. Namun yang lebih penting lagi lagi literasi humanistis berdasarkan ayat ayat alquran dan sunnah harus terus dicelupkan dalam relung relung hati warga pendidikan SMA Al Muttaqin. Maka dengan pendidikan yang komprehensif dalam pemahaman alquran dan sunnah yang diimbangi dengan melek teknologi, setiap lulusan SMA Al Muttaqin dapat beradaptasi dan menjadi subyek kiprah keummatan dan kebangsaan dikemudian hari ketika mereka berkiprah di era industri 4.0 ini.***

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *