Model Soal Asesmen

Oleh Nizar Machyuzaar

AMQ Lovers, Pemerintah, melalui Kemdikbud, akan melakukan evaluasi atas penyelenggaraan pendidikan di Indonesia. Ada pergeseran sudut pandang evaluasi yang dilakukan Kemdikbud, yaitu dari tes evaluatif seperti pada penyelenggaraan Ujian Nasional atau UN (menguji apa yang telah dipelajari) ke tes prediktif seperti yang akan diselenggarakan pada Asesmen Nasional (AN) pada bulan Maret 2021 nanti (menguji apa yang akan dipelajari).

Meski diniatkan sebagai survei atas penyelenggaraan pendidikan, hasil AN menjadi bahan evaluasi Kemdikbud dalam menentukan konsep pendidikan ke depan. Selain itu, hasil AN, yang juga mengikutsertakan guru dan kepala sekolah, dapat menjadi umpan balik bagi setiap satuan pendidikan (sekolah) untuk menilai ketercapaian visi dan misi sekolah dan mengambil kebijakan strategis dalam pelaksanaan pembelajaran. Yang menarik, hasil AN juga dapat menjadi data graduatif dan kualitatif atas klasifikasi sekolah.

Selain itu, AMQ Lovers, dari segi materi uji, sebagai contoh di tingkat SMA/SMK, tes evaluatif UN berdasar pada kompetensi mata ajar yang mendasari rumpun keilmuan yang diminati peserta didik, yakni peminatan Matematika dan Ilmu Alam, peminatan Ilmu sosial, dan  peminatan Bahasa dan Budaya. Sementara itu, untuk AN, materi uji menyertakan dua materi yang tidak berdasar pada materi ajar atau kurikulum dalam peminatan  rumpun keilmuan peserta didik. AN menyertakan materi uji yang mendasari semua mata ajar yang diselenggarakan di sekolah, yaitu kemampuan memahami teks (literasi dasar baca-tulis) dan kemampuan memahami operasi hitung dasar angka (literasi menghitung atau numerasi). Berikut adalah bagan konsep AN.

Sumber https://pusmenjar.kemdikbud.go.id

Literasi dan numerasi ini menjadi kecakapan dasar siswa yang harus dikuasai sehingga peserta didik dapat memahami dengan cepat dan tepat, bahkan dapat menemukan sisi aplikatif dan solutif atas apa pun keilmuan yang dipelajari. Atas dasar ini, pemerintah membuat istilah Asesmen Kompetensi Minimum yang menyasar siswa kelas V SD, VIII SMP, dan IX SMA/SMK.

Dalam laman https://pusmenjar.kemdikbud.go.id AKM dijelaskan sebagai berikut, “Asesmen Kompetensi Minimum (AKM) merupakan penilaian kompetensi mendasar yang diperlukan oleh semua murid untuk mampu mengembangkan kapasitas diri dan berpartisipasi positif pada masyarakat. Terdapat dua kompetensi mendasar yang diukur AKM, yaitu literasi membaca dan literasi matematika (numerasi). Baik pada literasi membaca maupun numerasi, kompetensi yang dinilai mencakup keterampilan berpikir logis-sistematis, keterampilan bernalar menggunakan konsep dan pengetahuan yang telah dipelajari, serta keterampilan memilah serta mengolah informasi. AKM menyajikan masalah-masalah dengan beragam konteks yang diharapkan mampu diselesaikan oleh murid menggunakan kompetensi literasi membaca dan numerasi yang dimilikinya.”

Harapannya, ketika mereka naik ke tingkat terakhir, sekolah dapat membuat strategi pembelajaran yang dibutuhkan peserta didik setelah mempelajari pemetaan hasil AKM. Selanjutnya, dalam laman tersebut dinyatakan tujuan AKM sebagai berikut, “AKM dimaksudkan untuk mengukur kompetensi secara mendalam, tidak sekedar penguasaan konten. Literasi membaca didefinisikan sebagai kemampuan untuk memahami, menggunakan, mengevaluasi, merefleksikan berbagai jenis teks tertulis untuk mengembangkan kapasitas individu sebagai warga Indonesia dan warga dunia serta untuk dapat berkontribusi secara produktif kepada masyarakat. Numerasi adalah kemampuan berpikir menggunakan konsep, prosedur, fakta, dan alat matematika untuk menyelesaikan masalah sehari-hari pada berbagai jenis konteks yang relevan untuk individu sebagai warga Indonesia dan warga dunia.”

Selain itu, dalam laman tersebut dipaparkan juga komponen materi uji AKM yang meliputi tiga materi uji, yakni (1) literasi membaca teks informasi, (2) literasi membaca teks fiksi, dan (3) literasi menghitung atau numerasi. Secara rinci ketiga komponen tersebut dipaparkan dalam tabel berikut ini.

Nah, AMQ Lovers, Kita harus mempersiapkan diri untuk menghadapi AKM yang direncanakan pelaksanaannya pada bulan Maret 2021. Semua stakeholder di satuan pendidikan, yakni sekolah mulai dari SD, SMP, SMA/SMK akan menjawab soal-soal AKM sebagai program survei Kemdikbud untuk evaluasi pelaksanaan pembelajaran di Indonesia. (NZ)

Ada Apa dengan Asesmen

Oleh Nizar Machyuzaar

AMQ lovers, Pemerintah melalui Kemdikbud membuat kebijakan baru. Ujian Nasioal (UN) ditiadakan. Penggantinya Asesmen Nasional (AN). Pelaksanaanya menyasar tingkat V SD, VIII SMP, dan XI SMA/SMK. Tujuannya memberi gambaran atas capaian pelaksanaan pembelajaran di sekolah di tingkat akhir, yakni kelas VI SD, IV SMP, dan XII SMA/SMK. So, sekolah dapat melakukan evaluasi di tingkat akhir peserta didik dalam menyelesaikan pembelajarannya.

 

AMQ Lovers, Kebijakan baru ini tidak hanya diikuti siswa, tetapi juga guru dan kepala sekolah. Dengan AN ini pemerintah melakukan survei di lingkungan satuan pendidikan (sekolah). Hasilnya akan dijadikan evaluasi atas penyelenggaraan pendidikan dari tingkat satuan pendidikan, daerah, sampai nasional. Meski diniatkan sebagai survei pemetaan, tampaknya pemerintah akan mengolah hasil AN dalam klasifikasi kualitas sekolah. Hal ini tentu bagus untuk memacu kinerja sekolah dalam memberika pelayanan pendidikan.

 

Lalu, materi apa yang diujikan AN? AMQ Lovers, laman resmi Kemdikbud memberi kisi-kisi materi uji AN yang disebut kompetensi minimum, yakni kompetensi dasar dalam membaca (literasi) dan menghitung (numerasi). Dua kompetensi dasar ini dapat menjadi modalitas peserta didik, guru pengampu pelajaran, dan kepala sekolah dalam memproduksi dan mengonsumsi teks, terutama informasi di internet (konten). Apalagi, Revolusi Industri (RI) 4.0 mengarah pada digitasi dan digitalisasi informasi. Dengan kata lain, prasyarat literasi dasar (baca-tulis) dan literasi menghitung (numerasi) menjadi modal kita dalam berinteraksi dalam literasi sains (ilmu pengetahuan), literasi finansial (keuangan), literasi digital (teknologi informasi), dan literasi budaya dan kewargaan (interaksi sosial dan budaya).

 

AMQ Lovers, hal ini menandai perubahan pola hidup mekanis ala RI 4.0 yang mereduksi nilai kemanusiaan ke kesadaran baru. Sebuah kesadaran akan pentingnya kembali berinteraksi dengan alam dan sesama. Kecanggihan teknologi hanya menjadi alat kita bereksistensi dan berkarya dalam hidup. Sebab, kita adalah warga sah sebuah bangsa (citizen), bukan hanya warga media sosial (netizen). Kesadaran baru ini sering kita sebut dengan era society 5.0. (22/10/20-NK).

Pola Berpikir Menyamping dalam Asesmen Kompetensi Minimum

Pola Berpikir Menyamping dalam Asesmen Kompetensi Minimum

Oleh Nizar Machyuzaar

Berpikir Lateral (Bagian I)

AMQ lovers, di tahun 1967 ada sebuah buku yang menarik untuk kita ulas. Buku yang diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia  oleh Binarupa (Jakarta,1991) ini berjudul The Use of Lateral Thinking ‘Penggunaan Berpikir Lateral’. Penulisnya adalah seorang psikolog bernama Edward De Bono. Buku yang sampai sekarang masih relevan dipelajari ini berbicara tentang bagaimana memaksimalkan kinerja otak. Apalagi, dalam kajian psikologi pendidikan, buku ini menjadi salah satu referensi klasik untuk mendesain pembelajaran yang menempatkan partisipan pembelajaran, baik guru maupun murid, sebagai subjek-yang-mengetahui.

Seperti kita ketahui, AMQ lovers, dalam kehidupan sehari-hari kegiatan berpikir dapat berhubungan dengan abstraksi atas pengalaman nyata atau khayal. Kegiatan berpikir yang menggunakan  prinsip, hukum, atau dalil untuk memperoleh pengetahuan dengan benar kemudian lebih dikenal dengan istilah bernalar.   Jadi, tidak semua kegiatan berpikir dengan semestinya adalah bernalar. Berpikir dengan menggunakan hukum berpikir yang disepakati kebenarannya yang kemudian disebut dengan bernalar. Peletak dasar hukum berpikir, kita tahu, sudah ada sejak 4 abad SM, yakni tiga serangkai guru-murid bernama Socrares, Plato, dan Aristoteles.

Demikianlah kita mengenal nalar dan proses berpikir dengan nalar (penalaran). Kita mengenal pengetahuan ini dengan istilah filsafat yang menjadi induk semang pengetahuan universal dengan berbagai objek kajian yang kita sebut dengan ilmu. Kita mengenal terapan atas hukum-hukum universal itu dengan nama teknologi dan seni. Ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni menjadi lokus sejarah pengetahuan manusia dalam memahami diri dan lingkungannya.

Namun demikian, warisan berpikir yang ketat dan logis-positivistik ini sering mengalami kebuntuan dalam memecahkan permasalahan hidup, bahkan mungkin dalam perkara sepele. Kenyataan ini yang menginspirasi buku ini ditulis. Bono mengenalkan dua konsep (baca: pola atau cara) berpikir, yakni berpikir vertikal dan berpikir lateral. Pola berpikir vertikal adalah pola berpikir logis konvensional yang selama ini kita kenal dan umum dipakai. Pola berpikir ini dilakukan secara tahap demi tahap berdasarkan fakta yang ada. Tujuannya mencari berbagai alternatif pemecahan  masalah.  Harapan akhirnya,  kita bisa memilih  alternatif  yang   paling   mungkin menurut logika normal (deduksi dan induksi). AMQ Lovers, kita mengenal pola berpikir ini dengan prosedur deskripsi, analisis, dan interpretasi atas objek atau pengalaman (logika induksi) dan (hipo)tesis, argumentasi, deskripsi (logika deduksi).

Sementara itu, pola berpikir lateral tetap menggunakan prosedur induksi atau deduksi. Sebagai contoh, dalam prosedur induksi, deskripsi dilakukan untuk mengenali  objek, analisis dilakukan untuk mengelompokkan bagian-bagian objek berdasarkan persamaan dan perbedaan, dan interpretasi dilakukan untuk menarik pernyataan generatif atau  sebagai pemecahan masalah sesuai dengan hasil akhir yang diinginkan. Namun, berpikir lateral, secara kreatif (dengan loncatan acak melampaui cara berpikir tahap demi tahap) berusaha mencari alternatif pemecahan masalah dari berbagai sudut pandang yang paling mungkin mendukung hasil akhir tersebut. Tidak mengherankan jika pola berpikir lateral sering muncul dalam berbagai penemuan baru dan terobosan dalam ilmu pengetahuan.

Bono menganggap bahwa kedua pola berpikir ini ekuivalen dengan (1) kemampuan kognitif yang inhern dimiliki kita sebagai seperangkat pengetahuan yang melekat pada diri dan (2) keterampilan berpikir dengan atau tanpa kesadaran untuk ke luar dari pola berpikir yang melekat pada diri (thingking out of the box). Yang menarik, berpikir lateral yang sejajar dengan keterampilan berpikir, bagi Bono, adalah daya berpikir yang bisa dibentuk dan dilatih dengan kesadaran dan pembiasaan. Dengan kata lain, AMQ Lovers, daya kreativitas kita dalam berpikir pun dapat dibentuk dan dilatih. (NZ/31/10)

SMA ALMUTTAQIN Bagikan Sembako ke Warga Dampak Covid 19

TASIKMALAYA—Dompet Dhuafa Jabar dan SMA Al Muttaqin Tasikmalaya menjalin kolaborasi kebaikan membagikan sembako kepada warga Tasikmalaya dan sekitarnya terdampak wabah Covid-19, Selasa (19/5). Aksi ini dilaksanakan dalam upaya menjaga ketahanan pangan khususnya kepada warga dhuafa dalam menghadapi wabah Covid-19.

Wabah virus Corona atau Covid-19 yang melanda Indonesia tidak hanya mengancam kesehatan masyarakat. Imbas lain yang dirasakan adalah kondisi ekonomi masyarakat lesu. Banyak masyarakat kelompok kecil seperti pedagang kecil atau pekerja harian mendapatkan kesulitan karena menurunnya pesanan atau pembeli.

“Wabah Covid-19 ini berpengaruh ke kondisi ekonomi sebagian masyarakat. Terutama kaum dhuafa. Kini kondisi mereka semakin sulit. Kita harus turut serta membantu mereka,” ungkap Manager Fundraising & Komunikasi Dompet Dhuafa Jabar, Yogi Achmad Fajar.

Yogi pun mengapresiasi SMA Al Muttaqin Tasikmalaya atas kolaborasi kebaikan yang dilakukan bersama Dompet Dhuafa Jabar. Menurutnya, kondisi sekarang diperlukan banyak kolaborasi dari berbagai pihak untuk membantu sesama yang kesulitan.

“Inisiatif kebaikan dari seluruh civitas akademika SMA Al Muttaqin Tasikmalaya ini semoga menginspirasi pihak-pihak lain untuk terlibat dalam kepedulian terhadap sesama yang kesulitan karena wabah Covid-19,” terang Yogi.

Kepala SMA Al Muttaqin Tasikmalaya, Jenal Al Purkon menuturkan aksi kebaikan ini adalah kontribusi semua civitas akademika. Semua terlibat untuk berbagi di momen bulan Ramadhan ini mulai dari guru, siswa, hingga orang tua siswa.

“Kepada siswa dan para orang tua siswa SMA Al Muttaqin yang telah menyisihkan sebagian rezekinya untuk disalurkan melalui pihak sekolah dan Dompet Dhuafa Jabar, saya ucapkan terima kasih. Semoga menjadi amal soleh dan dibalas oleh Allah SWT dengan yang berlipat ganda. Amin,” kata Jaenal.

Jaenal pun berharap aksi kepedulian seperti ini tidak berhenti sekali, namun bisa rutin dilakukan. Agar semakin banyak orang terbantu.

“Kami berharap melalui bantuan ini dapat sedikit meringankan beban warga Tasikmalaya yang kesulitan dalam memenuhi kebutuhan pangan di tengah wabah Covid-19,” pungkas Jaenal.

Wagub Uu Apresisasi ASC di SMA ALMUTTAQIN

Kegiatan tahunan yang biasa diadakan oleh Peserta Didik SMA ALMUTTAQIN Kota Tasikmalaya berupa ASC (Almuttaqin Students Challange) diapresiasi oleh Wakil Gubernur Jawa Barat, sebagai suatu ajang melatih peserta didik dalam hal kepemipinan serta berwirausaha.

“ASC sangat bagus karena melatih siswa-siswi berwirausaha. Mereka memamerkan banyak produk. Mulai dari berjualan angkringan, sate, dan lain-lain. Itu kan kontekstual,” kata Uu di SMA Al Mutaqqin, Kota Tasikmalaya, Rabu (22/1/20).

Menurut Uu, di ASC, peserta mendapatkan materi kewirausahaan dari pakarnya, juga ada lomba-lomba tentang kewirausahaan. Kegiatan ini sangat bagus untuk meningkatkan pengetahuan mereka tentang kewirausahaan.

“Saya berharap, anak-anak mampu menyeimbangkan teori yang diterima dan aplikasi di lapangan serta mengetahui bagaimana kerja tim dilakukan,” kata Uu.

Menurut Uu, Yayasan Al Mutaqqin memiliki visi misi yang serupa dengan Jabar, yakni Juara Lahir Batin. Sebab, akhlak, moral, dan akidah pelajar menjadi atensi Yayasan Al Mutaqqin.

“Yang dipelajari bukan hanya pendidikan yang bersifat duniawi, seperti matematika, fisika, dan lainnya, tapi juga belajar akidah, moral dan akhlak. Itu sejalan dengan visi Jabar Juara Lahir dan Batin,” katanya

“Karena kalau memiliki ilmu pendidikan tanpa dibarengi akhlak itu akan hampa dan kosong,” ucap Uu mengakhiri.

 

Sumber :

https://nasional.tempo.co/read/1298475/wagub-uu-apresiasi-kegiatan-al-mutaqqin-students-challenge

https://pojoksatu.id/news/berita-nasional/2020/01/22/al-mutaqqin-students-challenge-diapresiasi-wagub-jabar/

Kepala SMA Al Muttaqin Diundang SEAMEO Training Course On Science Classroom Supervision

Kepala SMA Al Muttaqin Fullday School Kota Tasikmalaya, Drs. Jenal Al Purkon, M.Pd.  diundang SEAMEO QITEP in SCIENCE (organisasi kementrian pendidikan ASEAN) untuk mengikuti Training Course  On Science Classroom Supervision. Kegiatan diikuti 22 Kepala Sekolah terpilih se Indonesia.

Kegiatan tersebut dilaksanakan SEAMEO dilatarbelakangi tantangan pendidikan semakin komplek, pendidikan harus mengembalikan dan/atau mengubah paradigmanya dalam menyelenggarakan layanan pendidikan dan pembelajaran. Dunia Pendidikan, dalam hal ini sekolah, harus mampu membentuk dan membekali peserta didiknya dengan kecakapan abad 21.

Pada abad 21 ini telah terjadi lompatan-lompatan besar (Big Leap) dalam perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Perkembangan ini sudah tidak lagi mengikuti deret hitung, tetapi telah mengikuti deret ukur yang terkadang sulit untuk diprediksi.  Hal ini disinyalir akan terjadi terus menerus seiring dengan inovasi yang terus dilakukan.

Begitupun tantangan-tantangan yang dihadapi dunia pendidikan pada abad 21 yakni (1) Pergesaran Paradigma Pendidikan, (2) Penyiapan kompetensi Sumberdaya manusia abad 21 (Comunication, ceratvity, critical thinking, colaboratif), (3) Tantangan profesi masa depan yang tidak bisa diprediksi. Perkembangan teknologi yang demikian pesat menyebabkan pendidikan membutuhkan input yang lebih besar supaya bisa menyesuaikan dengan asupan teknologinya.

Ada lima prinsip kebangkitan pendidika abad 21,  (1) tidak boleh menjadi penjara yang membelenggu potensi siswa, (2) tidak boleh membungkam rasa ingin tahu, (3) tidak boleh memodelkan berbuat curang, (4) tidak boleh lagi mengenal diskriminasi dan (5) mengupayakan terciptanya budaya belajar Menghadapi tantangan tersebut, selama delapan hari para kepala sekolah dibekali SEAMEO  berbgai materi antaranya:  Education Quality Assurance System in Schoolo (Policy), Ttrend and Issu in global Education, Acadenik  science Classroom Supervision dll.

Training Course  On Science Classroom Supervision yang berlangsung 14 s,d 21 Oktober 2019 itu, membekali kepala sekolah untuk kegiatan supervisi akademik. Kunci dari kualitas proses KBM adalah dari supervise akademik yang baik. Pada supervise ini, Kepala sekolah memotret beragam metodelogi KBM yang pas buat peserta didik oleh para guru. Salah satu model supervisi yang diajarkan oleh SEAMEO adalah supervisi untuk mata pelajaran IPA. Mapel ini mempunyai kehasan  yaitu hakekat pembelajaran IPA, hakikat IPA sebagai sebauah proses dan hakikat IPA sebagai produk  ***. (Ed AMQ01-02)

Wagub Jabar di Al Muttaqin : “Jadilah Pelajar Masa Depan”

 

Sambutan Hangat Sahabat Lama. Wakil Gubernur Jawa Barat, H. Uu Ruzhanul Ulum disambut hangat Wakasek SMA Al Muttaqin Drs H. Thabiin Baedlawi dan Ketua ASC Yudi Cahyadi Putra saat bersilaturahmi ke Kampus AMQ Ahmad Yani. Wagub Uu memberikan tausiyah bagi seluruh siswa AMQ dan sekaligus membuka Pengkajian Al Quran bersama Syech Palestina.

Berpenampilan layaknya seorang santri, tetap begitu terasa pada sosok Wakil Gubernur Jawa Barat, Uu Ruzhanul Ulum. Penampilannya sederhana, tidak protokoler, dan sedikit nggaya, menyetir sendiri VW Combi jadulnya. Ramah, dan begitu akrab dengan para siswa. Kedatangannya ke Al Muttaqin dalam rangka membuka kajian keislaman bersama stech Palestina, dan juga cek n ricek kegiatan Al Muttaqin, khususnya Al Muttaqin Students Challenge (ASC) dengan lomba tngkat nasional dan Jawa Barat.

Begitu di daulat memberi smabutan, dengan gaya santrinya, UU mampu ngabojeg (guyon) tentang asal usul nama dirinya. Membuat suasana sesak aula Al Muttaqin tambah ceria. “Nama yang mudah di ingat, dibalik tetap sama. UU. Cukup dua kata,” seloroh Wagub. “Buat anak-anak Al Muttaqin, jadilah pelajar unggul buat masa depan. Sebab ditangan kalianlah, saat satu abad bangsa Indonesia, kalian sedang eksis. Kalian pemilik masa depan itu,” kata Uu. Lebih lanjut Uu menyampaikan empat resep menjadi pelajar sukses.

“Untuk sukses di masa depan, kalian harus memiliki 4 rahasia ini. Pertama kuasailah dunia IT (komputer), kedua pandai berkomunikasi (lisan dan tulisan), ketiga mampu bekerjasama (berorganisasi), dan yang paling penting keempat, kuasailah ilmu agama, akhlak kalian harus baik,” kata Uu. Lebih jauh wagub Jabar ini berpesan agar siswa dan sekolah Al Muttaqin tetap menajaga nilai nilai keunggulannya untuk siap berkompetisi di era global. Karenanya Wagub mendorong kesuksesan ASC sebagai wahana kreativitas dan kompetisi siswa Al Muttaqin dan juga Jawa Barat. ***

Guru SMA ALMUTTAQIN Studi di Tiga Negara

Semester genap 2018-2019, memberikan pengalaman tersendiri bagi 4 orang tim manajemen SMA Al Muttaqin. Pasalnya, mereka berkesempatan mengkaji dan merasakan denyut nadi dunia Pendidikan di tiga negara, Thailand, Malaysia, dan Mesir. Hasilnya untuk diramu, di ATM dan menjadi quantum berkemajuan bagi SMA Al Muttaqin ke depan.

Thailand, Malaysia, dan Mesir Menginjak tahun ke – 15, salah satu mimpi yang digadang gadang adalah AMQ mampu go internasional. Artinya, prinsip kualitas pendidikan yang dibangun sudah harus mampu mengkomparasikan dengan kualitas pendidikan di negara lain, dan mampu memberikan pengalaman global bagi seluruh sivitas akademikanya.

Lirikan AMQ ke dunia internasional, tentu degan tetap berpijak pada jati diri konsep pendidikan lokalnya. Pembenahan mutu harus terus diperbaiki, sehingga citraan sekolah unggul yang mampu mendorong AMQ berinteraksi dengan sejumlah negara.

Selain itu, prinsip yang dibangun, pergi ke mancanegara, bukan program wisata, tetapi harus dalam rangkaian keikutsetaan dalam program yang lebih akademik sentris, atau kegiatan formal non traveler.

Prinsip ini membuahkan hasil. Semester genap 2018-2019, mulai Kepala Sekolah Drs Jenal Al Purkon M.Pd, ikut serta dalam pelatihan kepala sekolah oleh kemdikbud. Jenal ditugaskan untuk belajar di Thailand selama 1 bulan. Selanjutnya, In in Kadarsolihin, S.S. (Wakasek Kurikulum) dan Diana Arianti S, M.Pd (Wakasek Humas SDM) mengikuti Jambore Islamic Global School Network (IGSN) di Malaysia. Terakhir adalah Aep Saepuloh, M.Pd, melalui P4TK Bahasa Kemdikbud, diberangkatkan ke Mesir untuk belajara Bahasa Arab antarbudaya.

Perjalanan studi ke mancanegara tersebut, melalui kisah berliku. Awalnya mimpi. Namun mampu melampaui mimpi dan berhasil. Kisah itu contohnya, pada keberangkatan Jenal ke Thailand. Hal ini diawali pada Tahun 2017. Ketika itu Kepala SMA Al Muttaqin mampu menyabet reputasi juara sebagai kepala Sekolah berprestasi ke-1 tingkat Provinsi Jawa Barat dan ke-3 tingkat nasional. Dengan prestasi tersebut, tiket ke manca negara pun di dapat. Tahun 2018, Jenal mendapat tawaran short study ke Australa dan Cina dari Kemdikbud. Namun sayang disayang tidak ikut. Pasalnya, adaptasi iklim menjadi faktor ketidakikutsertaan.

Baru pada tahun 2019, dengan kondisi iklim yang sama, akhirnya Jenal mampu berangkat ke studi ke mancanegara, pilihan Kemdikbud ke Thailand. Sepintas, Thailand mungkin aneh ketika dijadikan studi penguatan kapasitas kepala sekolah. Namun ternyata, negeri Gadjah putih ini, memiliki sederet keunggulan dalam bidang pendidikan dengan Indonesia.

Contoh sederhananya, cerita Jenal Al Purkon, umumnya di Thailand tingkat kreativitas siswa lebih ditonjolkan. Hal ini dibuktikan dengan sejumlah sekolah yang dikunjungi memiliki sederet produk kreativitas siswa.

“Umumnya sekolah mengedepankan one student one product. Produknya kearah kreativitas pembuatan buku. Jadi semua siswa di sekolah tersebut, sudah memiliki buku buku karangan siswanya,” cerita Jenal.

Kerjasama Internasional, Sejuta Langkah Wujudkan Impian

Bermimpilah yang tinggi, tapi jangan berusaha menggapai mimpi teresebut, melainkan berusahalah untuk melampauinya.

Hal itu dituturkan mantan Menteri Pedidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Anies Baswedan yang kini Gubernur DKI Jakarta. Mengejar impian adalah sebuah energi meraih cita cita. Namun jika hanya sebatas menggapainya, maka lompatan energi itu, tak akan sekuat dibanding dengan keinginan untuk melampauinya.

Sebagai sebuah institusi, SMA Al Muttaqin pun memiliki mimpi. Mimpi ini diwujudkan dalam sebuah visi, yakni menjadi sekolah unggul dan terdepan, baik dalam bidang akademik maupun nonakademik. Mewujudkan mimpi tersebut, tahun akademik 2018-2019, salah satunya dilakukan melalui penguatan wawasan guru tentang sekolah unggul dan inovatif yang ada di Jawa Timur.

Dengan wawasan para guru bertambah, maka energi mimpi itu, bukan hanya menggapai, tapi melampauinya. Ditengah semakin kompetitifnya persaingan dunia pendidikan, tantangan pengelolaan kelembagaan yang semakin komplek, perubahan kultur karakter peserta didik yang berkejaran dengan waktu, maka dibutuhkan sebuah energi baru yang terlahir dari sebuah mimpi mimpi baru.

Maka mimpi itupun lahir. AMQ go Internasional. Namun mimpi ini bukan hanya sekedar mimpi. Tapi sebuah kenyataan. Pada tahun akademik 2018-2019 ini, paling tidak ada mimpi mimpi go internasional terwujudkan.

Diawal semester gasal ada penawaran student exchange ke Jepang, dan di akhir semester genap, penawaran student exchange ke Amerika Serikat. Bak gayung bersambut, tim manajamen, berkesempatan belajar di sejumlah negara. Memotret realitas Pendidikan disana. Kepala Sekolah berkesempatan belajar di negeri gajah putih Thailand melalui program kemdikbud School Leadership And Supervision Training Program (SEAMES).

Selanjutnya Wakasek Kurikulum dan Wakasek Humas SDM, berkesempatan belajar di forum Islamic Global School Network (IGSN) dan Kolej Permata Insan USIM (Universitas Sains Islam Malaysia).

Terakhir wakasek Kesiswaan, berkesempatan belajar Bahasa Arab untuk beragam budaya di Mesir. So …melampui mimpi, berharap banyak Al Muttaqin kedepan lebih baik.

Energi prestasinya lebih berlipat ganda.**