Realisasi dalam Mendidik dengan Cinta

Oleh Aep Saefulloh, S.Pd., M.Pd.I

“Merealisasikan pendidikan dengan cinta butuh konsentrasi dan keuletan karena ditengah jalan pasti ada kendala yang berarti, untuk itu butuh pola dan rencana matang”

Merealisasikan pendidikan dengan cinta sangatlah tidak mudah melainkan butuh konsetrasi dan keuletan karena ditengah jalan pasti ada kendala yang berarti, untuk itu butuh pola dan rencana matang.
Penulis Alhamdulillah sebagai pendidik di SMA Al Muttaqin sedari awal mengabdikan diri sampai sekarang, diusianya yang tidak muda lagi SMA Al Muttaqin telah memasuki usia 17 tahun terus melakukan kreasi, inovasi dan akselerasi menuju kemajuan, dalam tulisan sederhana ini menawarkan solusi anternatif dalam merealisasikan Pendidikan dengan cinta, antara lain:
a. Strategi pendidik berbasis pengalaman
Pengalaman menarik dalam Pendidikan reguler yang di dalamnya ada peserta didik berkebutuhan khusus, strategi yang diterapkan adalah sebagaimana pada poin pembahasan nomor 3 bahasan di atas, semuanya dibuktikan dalam pembelajaran, di SMA Al Muttaqin ada siswa yang berkebutuhan khusus tapi belum ada tenaga pendidik khusus (mudah-mudahan dengan penanganan yang sedang berlangsung) dapat bantuan tenaga khusus dari pemerintah.
Alhamdulillah dengan metode yang bervariasi terus dilakukan dan diupayakan dengan maksimal oleh seluruh pendidik yang ada, Kami yakin mereka mendidik dengan cinta dan penuh kasih saying sehingga dapat membuahkan hasil yang menggembirakan.
Bersyukur kepada Yang Maha Kuasa dengan pendekatan yang dilakukan dengan berbasis cinta, progres peserta didik tersebut berkembang signifikan, di antaranya pada bidang:
1. Logis matematis bisa mengikuti meski tidak sehebat peserta didik yang lainnya,
2. Daya ingat menghafal Al Quran relatif bagus bila dibanding dengan reguler lainnya,
3. Mengikuti pelajaran Bahasa Arab juga bisa, tapi harus telaten dan pendekatan yang baik dan pendidik harus sering mengalah (realisasi cinta) yaitu dengan cara, pendidik yang mendekati ke mejanya atau sebaliknya dia dipanggil ke meja pendidik, dengan pendekatan seperti itu akhirnya dia nyaman dan keingintahuannya meningkat,
4. Membuat pendidik kagum, karena peserta didik yang spesial ini terus membuktikan talenta terpendamnya yaitu menggambar berbagai macam bentuk mobil besar baik mobil bus, truk maupun kontainer dia bisa menggambarnya dengan bagus dan bermacam-macam, hasil karyanya akan ditampilkan dalam lampiran buku ini,
5. Mengenai cita-cita kedepannya peserta didik spesial ini ingin menjadi chef terkenal, dan ini sejalan dengan jawaban seorang guru alumni UPI Bandung, bahwa cita-cita tersebut bisa terwujud.
b. Membentuk Tim Pasukan Cinta
SMA Al Muttaqin mempunyai Wakil Kepala Sekolah Bidang Kesiswaan yang tugas pokok aksinya yaitu membantu Kepala Sekolah dalam mewadahi dan mengayomi seluruh kegiatan organisasi kesiswaan yang ada seperti OSIS, MPK, Pramuka, Rohani Islam yang itu semua lengkap dengan para pembinanya termasuk Tim Keshalehan putra dan putri, juga Bimbingan dan Konseling (BK) yang disebut Ruang Cinta.
Bisa dibilang banyak kegiatan kesiswaan itu, dengan tujuan semakin banyak kegiatan organisasi maka akan semakin banyak pula kegiatan-kegiatan peserta didik yang terlibat dalam kegiatan positif hal ini sering diucap ulang oleh kepala sekolah berprestasi tingkat nasional Drs. Jenal Al Purkon, M.Pd., hal ini guna membentengi sikap-sikap yang mengarah kepada hal negatif, maka dalam lembaga pendidikan mutlak harus ada.
Membentuk pasukan cinta dengan tim keshalehan merupakan upaya untuk memperkuat dimensi spiritual mereka sekaligus dengan dimensi sosialnya, karena di dalamnya terdapat kegiatan-kegiatan yang positif untuk dilakukan secara simultan, kegiatannya antara lain :
1. Mengadakan kajian rutin seperti tadarus Al Quran, tafakur alam dan lain-lain;
2. Mengadakan Malam Bina Iman Taqwa (MABIT) dengan seluruh siswa, Rihlah Uluhiyah Mabit antar Organisasi (RUMAOS);
3. Ramadlan Ceria Bersama Rohis;
4. Jumat Berkah yaitu membagikan nasi bungkus kepada para tukang beca, masyarakat sekitar dan lain-lain;
5. Bedah Rumah, dengan cara merenovasi rumah warga yang tidak layak huni bekerjasama dengan bapak RT dan lingkungan sekitar.

Alhamdulillah sudah empat rumah yang dibedah atau direnovasi, saya sangat kagum dan sesekali meneteskan air mata, betapa tidak, sebab seusia mereka yang harusnya belajar nyaman di ruangan kelas ber ac tapi saat bedah rumah, mereka nampak kompak dan semangat ternyata bukan saya saja yang seperti itu, Pak RT pun sama nangis kagum dengan semagat mereka dalam berbagi baik materi maupun immateri termasuk mereka yang mencurahkan bantuannya dengan tenaga.
Puji syukur kepada Yang Maha Kuasa, bahwa kegiatan ini murni kegiatan siswa yang berefek bukan hanya kepada dirinya secara spiritual, namun dapat berefek bagi lapisan masyarakat secara sosial, diharapkan kegiatan dari pasukan cinta atau tim keshalehan ini dapat terus dilaksanakan secara simultan dan juga bisa terus melakukan fatabiqul khairat kapan dan di mana saja mereka berada.
c. Membuka Ruang Cinta
Ruang cinta sengaja dibuat sebagai model untuk menggali potensi diri peserta didik, tidak semua peserta didik mampu dan berani mengutarakan keinginan masa depannya, curahan isi hatinya dan lain sebagainya kepada sembarang orang, bisa jadi mereka hanya berani kepada orang yang nyaman dan bisa dipercaya.
Membuka ruang cinta istilah ini digunakan dengan tujuan bahwa yang masuk ke ruangan ini bukan hanya yang “bermasalah” melainkan siapa saja yang ingin berkomunikasi baik peserta didik laki-laki maupun peserta didik perempuan ke ruang curhat ini untuk menbedah wawasan individu demi masa depan, padahal ruangan ini hanya menyulap ruang Bimbingan Konseling (BK) menjadi tempat atau ruang komunikasi yang bersangkutan untuk mengeluarkan isi hati mereka. Dengan demikian supaya tempat ini gampang diingat dan mudah dijumpai maka istilahnya diganti bukan lagi guru BK melainkan guru penerima ruang curhat.
Guru BK (Bimbingan Konseling) tentu saja tidak asing dikalangan peserta didik SMA. Dari sini mulai guru BK istilahnya diganti menjadi guru penerima curhat, maka nantinya guru penerima curhat (GPC) memiliki hal baik dan buruk dibenak masing-masing peserta didik. Jadi nanti GPC ini sudah barang tentu akan dikunjungi oleh peserta didik yang ingin mengetahui jati dirinya atau sebaliknya GPC ini dipaksa menerima kunjungan peserta didik yang punya kesalahan dalam menjalankan roda tata tertib di sekolah. Kita coba kikis bahwa ruang ini jangan terkesan untuk orang-orang pintar juga bukan untuk orang-orang atau peserta didik yang bermasalah, sehingga diharapkan ruang cinta dan GPC ini akan dirasakan oleh peserta didik baik yang punya prestasi maupun belum punya prestasi.
Hal yang baik tentu bisaanya akan dirasakan dikalangan para siswa yang berprestasi, seperti memenangkan lomba olimpiade, lomba pidato bahkan liga olahraga. Meski kelihatanya berbeda dengan hal buruk yang dirasakan oleh para siswa yang bandel apalagi yang sudah dihafal betul oleh GPC, misalnya seperti langgangan terlambat, bolos jam pelajaran dan tukang bikin ribut kelas. Namun jangan salah, meski memiliki kenangan yang berbeda berikut ini beberapa alasan mengapa guru BK sama dengan GPC digemari para peserta didik, maka beberapa istilah ini semoga masuk ke benak para peserta didik, dan akhirnya semuanya semangat untuk menerima GPC. Berikut tugas GPC menjadi istilah baru antara lain :
1. Guru PC sebagai motivator
Guru penerima curhat sudah bisa menjadi motivator dan memberikan cerita-cerita inspiratif bagi peserta didik yang nantinya akan membuat mereka intropeksi diri atas kesalahan-kesalahanya, sehingga bisa bangkit dan terinspirasi menuju sukses masa depan.
2. Guru PC biasanya tekun dan sabar
Alasan ini memang tidak dirasakan di semua sekolah, tapi hal ini membuat guru penerima curhat makin banyak digemari karena tekun, sabar dan penuh optimisme. Tentu ketiga itu kriteria yang pas untuk jadi guru idola dan guru panutan.
3. Guru PC sebagai tempat curahan hati alias curhat
Alasan ini memang sudah banyak dilakukan para siswa apalagi dikalangan remaja perempuan. Bahkan sudah menjadi kerjaan sampingan para guru PC, masalah yang dicurahkan bisaanya mengenai masalah “cinta”, masalah asmara, masalah keluarga, masalah teman ataupun konsultasi universitas, memang menjadi guru penerima curhatan peserta didiknya, akhirnya mereka merasa nyaman dan total untuk mengutarakan hakikat isi hatinya yang mereka inginkan dengan cara memilah serta menempatkan plus memposisikan mana yang sifatnya emergensi mana yang bisaa. Secara spesifik GPC tidak masuk kelas, ketika guru penerima curhat tidak masuk kelas bukan hal yang baru bagi para peserta didik, karena guru PC memiliki banyak tugas di lingkup sekolah, terutama mengurus masalah anak yang langganan masuk ruang tersebut.
4. Guru PC gudangnya informasi
Guru penerima curhat ini mempunyai ribuan informasi dan layak disebut gudang informasi, karena para siswa tidak usah merasa ragu lagi untuk melakukan komunikasi, karena tugasnya yang bersangkutan menerima keluhan, memberi motivasi untuk menghartarkan peserta didik ke jenjang pendidikan berikutnya, sehingga peserta didik akan merasa nyaman dan optimis untuk kemajuan diri dan keluarganya di masa yang akan datang.
Keempat tugas guru penerima curhat ini mudah-mudahan bermanfaat dan dapat diadaptasi oleh para pelaku pendidikan guna membina dan mendidik sekaligus menghantarkan kepada kesuksesan kelak empat atau lima tahun kedepan.

Khitah Pendidikan SMA Al Muttaqin, Budaya Riset, Pembentukan Karakter, dan Akhlak

Oleh Drs. Jenal Al Purkon, M.Pd.

“Bismillah…
Dalam kondisi apapun pendidikan tidak boleh matisuri, pendidikan harus tetap berjalan demi masa depan bangsa yang gemilang.
Disinilah peran guru dituntut utuk tetap semangat, kreatif dan sabar.
Momentum peringatan hari guru tahun 2020 dengan tema “Bangkitkan semangat wujudkan merdeka belajar” merupakan kesempatan untuk meningkatkan energi baru yang sudah beberapa bulan belajar dalam situasi pandemi covid 19.
Selamat hari Guru tetap semangat demi masa depan bangsa”

(Drs. Jenal Al Purkon, M.Pd., Kepala Sekolah SMA Al Muttawin Tasikmalaya)

Tulisan ini merupakan lanjutan dari dua tulisan sebelumnya, yaitu “Budaya Riset Berkarakter SMA Al Muttaqin” dan “Tantangan Sekolah Berbasis Riset” yang dimuat di situs ini. Selain itu, ulasan dalam tulisan ini juga mencoba merevitalisasi khitah ‘cita-cita’ pendidikan yang sesuai dengan amanat Pembukaan UUD 1945, yakni ikut serta dalam mencerdaskan kehidupan berbangsa dan bernegara. Di saat tantangan budaya yang mengglobal, karakter peserta didik yang cenderung menunjukkan kekerasan baik tindakan nyata maupun simbolik, ulasan atas aplikasi karakter (akhlak) menjadi penting sebagai pelengkap pembangunan manusia Indonesia seutuhnya yang tidak hanya cerdas tetapi juga berakhlak mulia.

Dari segi bahasa, khuluq (kata dasar dari akhlak) berarti sifat yang senantiasa tampak pada perilaku dan telah menjadi tabiat,hal ini juga sebagaimana dikatakan oleh Profesor. Dr. Amril Mansur, MA, bahwakhuluq dapat juga dikatakan sebagai Akhlak Potensial yang dimiliki oleh manusia sebagai sesuatu yang dianugrahkan Allah SWT kepada manusia untuk segera ditampilkan dalam bentuk prilaku nyata melalui usaha manusia.

Jadi akhlak atau prilaku dalam perspektif etika Islam tidak lain adalah prilaku Akhlak Aktual yang hidup dalam diri seseorang setelah adanya upaya terus menerus menumbuhkembangkan prilaku akhlak potensial yang telah Allah SWT anugrahkan kepadanya, sehingga ia hadir dalam bentuk tindakan-tindakan nyata. Pemaknaan akhlak seperti ini sejalan dengan makna kata akhlak yang memang merupakan plural dari kata khuluq yang berasal dari kata khalaqa yakni kata yang ditujukan pada ciptaan asal dari Tuhan yang sangat sarat dengan muatan daya atau kemampuan dasar yang dapat disempurnakan melalui adanya berbagai upaya nyata manusia kearah lahirnya penyempurnaan-penyempurnaan.

Kata khuluq tercantum dalam surat al-qalam ayat 4 yaitu : “Sesungguhnya engkau (Muhammad) benar-benar memiliki budi pekerti yang agung” (QS al-Qalam: 68 : 4).
Menurut istilah, ia mengandung dua makna, salah satunya lebih umum dari yang lain, yaitu:
Sifat yang tertanam dengan kokoh dalam setiap jiwa, baik yang terpuji maupun tercela. Dengan kata lain, akhlak adalah gambaran batin yang telah ditabiatkan kepada manusia.
Sifat yang berwujud sikap berpegang teguh kepada hukum-hukum dan adab-adab syariat, baik berupa perintah yang harus dikerjakan atau larangan yang harus ditinggalkan, atau dengan kata lain bahwa jenis kedua ini dapat dihasilkan dengan usaha dan latihan yang diupayakan oleh manusia.

Akhlak mulia merupakan salah satu asas terpenting dalam ajaran Islam untuk membina pribadi dan memperbaiki masyarakat. Keselamatan masyarakat, kekuatan, kemuliaan, dan kewibawaan pribadi-pribadinya sangat bergantung kepada sejauh mana mereka berpegang dengan akhlak mulia tersebut. Dan masyarakat akan hancur dan rusak tatkala mereka meninggalkan dan menjauhkan akhlak yang terpuji. Dari apa yang telah dijelaskan di atas bahwa akhlak itu sebenarnya terbagi ke dalam dua bagian yaitu ;
Akhlak Potensial yang merupakan akhlak yang telah dianugrahkan oleh Allah SWT kepada manusia tergantung kepada manusia itu sendiri untuk mengembangkannya kearah yang baik atau yang buruk. Atau dengan kata lain yang telah tertanam dalam jiwa seseorang.

Akhlak Aktual adalah aplikasi dari akhlak potensial yang telah ada pada diri manusia atau prilaku manusia dalam tindakan nyata dalam kahidupan sehari-hari. Karena adanya usaha-usaha yang telah dilakukan oleh manusia. Jadi dengan kata lain Akhlak aktual telah ada sebagai anugrah dari Allah SWT lalu tergantung manusia untuk mengembangkannya melalui berbagai upaya untuk menampilkan yang seseuai dengan etika Islam.

Akhirnya, di hari yang bermakna untuk pendidikan ini, Hari Guru yang selalu diperingati pada tanggal 25 November, kita berharap semua komponen yang terlibat dalam pembangunan pendidikan dapat kembali merevitalisasi khitah pendidikan yang cerdas secara akal dan mulia secara akhlak. Selamat Hari Guru.

TIPS MENDIDIK DENGAN CINTA

Oleh Aep Saefulloh, S.Pd., M.Pd.I.

Mendidik dengan cinta seolah keromantisan yang akan ditonjolkan karena ada kata cinta, tetapi memang demikian rilnya. Dalam sebuah keluarga juga untuk menuju keharmonisan butuh cinta dan perhatian lebih sehingga sejuta langkah terus dicari. Begitupun dalam mendidik membutuhkan jurus akurat dan jitu supaya materi yang akan disampaikan kepada peserta didik bisa sampai ke lubuk hatinya. Apalagi, peserta didik yang membutuhkan perhatian lebih dan ekstra. Di antaranya, peserta didik yang berkebutuhan khusus, maka bagaimanakah mendidik dengan cinta itu? Berikut akan diuraikan dalam tulisan ini:
1. Dunia yang Berbeda
Jarak usia pendidik dan peserta didik memang jauh berbeda dan dunianya pun cukup berbeda, dunia pendidik tentunya lebih ramai dengan segudang pengalaman yang sudah dialaminya sehingga ada istilah “pendidik pernah muda”, maka rekam jejak dunia pendidik itu akan bervariasi sedangkan peserta didik dunianya berbeda “kekinian” tapi mereka belum pernah tua.
Jadi dua dunia ini yang membutuhkan jembatan penghubung, supaya apa yang akan disampaikan pendidik kepada peserta didik ini bisa sampai dan peserta didik merasa tidak puas karena ingin terus mengetahui apa yang telah dialami gurunya, sehingga merasa haus dan ketagihan untuk belajar, dua dunia membutuhkan jembatan keharmonisan tiada lain adalah cinta.
2. Ajak Dunia Mereka kepada Dunia Pendidik
Para ahli banyak menuturkan bahwa untuk melancarkan dalam proses pendidikan membutuhkan model pembelajaran yang bermacam-macam, dengan tujuan supaya peserta didik tidak bosan dan kehadirannya di kelas sangat dinantikan.
Porter (Wulandari, 2003:7) menyatakan bahwa asas utama quantum teaching adalah “Bawalah dunia mereka ke dunia kita dan antarkan dunia kita ke dunia mereka”. Inilah asas utama yang merupakan dasar model quantum teaching. Hal ini dapat diartikan bahwa guru diingatkan tentang pentingnya memasuki dunia siswa dengan mengaitkan apa yang kita ajarkan dengan sebuah peristiwa, pikiran atau perasaan yang diperoleh dari kehidupan rumah, sosial atau akademis siswa. Setelah kaitan tersebut terbentuk, guru dapat membawa siswa kedalam dunia guru dan memberikan siswa pemahaman mengenai isi dunia (De Porter, 2005:6).
Sesuai dengan konteks filosofi cinta merupakan sifat baik yang mewarisi semua kebaikan, perasaan belas kasih dan kasih sayang. Maka kolaborasi cinta dengan model pembelajaran quantum teaching dapat dipadukan, sehingga pendidik dan peserta didik ada keterikatan batin dan kesepahaman yang didasari kebaikan dan belas kasih, peserta didik siap menerima pelajaran dan pendidik juga demikian, terjadilah pembelajaran yang kondusif dan saling membutuhkan.
3. Tutur Kata yang Manja
Pendidik perlu untuk memperhatikan pemilihan jenis tindak tutur dan strategi bertuturnya agar dalam penerapan pendekatan saintifik dalam pengajarannya dapat berhasil dengan baik.
Selain itu, dan semua tahapan dalam kegiatan belajar mengajar dengan kurikulum 2013 atau yang sering disebut K13 ini dapat terlaksana dengan baik dan guru tidak perlu merasa takut tidak santun untuk berbicara didepan kelas, karena dalam teori pragmatik, santun atau tidaknya tuturan bergantung pada konteksnya, bahwa kegiatan belajar mengajar (KBM) merupakan kegiatan interaksi pendidik dengan peserta didik untuk mencapai tujuan pembelajaran. Tujuan pembelajaran akan tercapai apabila guru mempunyai keterampilan menciptakan suasana belajar yang mendorong murid berpartisipasi aktif di dalamnya.
Dalam kegiatan tersebut diperlukan komunikasi yang harmonis di antara keduanya yaitu dengan kata-kata manja seperti manis, cip, sayang dan sebagainya. Salah satu indikator tercapainya tujuan pembelajaran dapat dilihat dari respons positif yang diberikan oleh siswa. Oleh karena itu guru perlu mengembangkan pola komunikasi efektif dalam KBM-nya.
4. Tutur Kata Tegas
Tutur kata tegas bukan berarti galak, tapi sesewaktu kata tegas dibutuhkan, sebagai peguatan atau penegasan bahwa materi yang disampaikan pendidik itu bisa sampai dengan maksimal dan dapat dimengerti.
Lain hal dalam kehidupan bersosial, tutur kata itu mencerminkan sifat kepribadian seseorang, sifat-sifat orang terdidik, dapat diukur atau ditakar berdasarkan beberapa hal, antara lain:
1) Sikapnya dalam berinteraksi dengan orang lain
2) Tutur kata yang keluar dari mulutnya
3) Kemampuan untuk mengontrol diri dalam situasi apapun
4) Arif dalam memilih kosa kata yang santun dan berkepatutan
5) Tidak menempatkan diri sebagai sosok yang paling pintar
5. Tutur kata manja-tegas
Tutur kata manja-tegas dipadukan dalam keindahan kata-kata yang disampaikan, sesekali manja dengan memberikan reward atau penghargaan sesekali tegas supaya tetap kuat dalam ingatan peserta didik.
Tutur kata manja-tegas bisa dengan kata “ okey sayangku pasti kamu bisa, kemarin juga keren …”, dengan ucapan seperti itu peserta didik akan merasa nyaman, merasa dihargai dan diperhatikan.
6. Tunjukan Perhatian Penuh kepada Peserta Didik
Menunjukan perhatian penuh tanpa pemilahan termasuk kepada anak berkebutuhan khusus, disinilah pembelajaran inklusif dipertajam.
Pendidikan inklusif adalah sistem penyelenggaraan pendidikan yang memberikan kesempatan kepada semua peserta didik yang memiliki kelainan dan memiliki potensi kecerdasan dan atau bakat istimewa untuk mengikuti pendidikan atau pembelajaran dalam satu lingkungan pendidikan secara bersama-sama dengan peserta didik pada umumnya.

Generasi Emas

Oleh Aef Saefuloh, S.Pd., M.Pd.I

Generasi emas adalah  generasi yang mampu bersaing secara global. Kondisi putra-putri bangsa yang sangat potensial, ini harus dibungkus serta diimbangi dengan karakter mulia, supaya beberapa tahun kedepan mereka akan tumbuh dewasa, sehingga generasi emas sendiri merupakan generasi yang mampu bersaing secara global dengan bermodalkan kecerdasan yang komprehensif antara lain produktif, inovatif, damai dalam interaksi sosialnya, sehat dan menyehatkan dalam interaksi alamnya, dan berperadaban unggul.

Ketika Indonesia genap berusia 100 tahun, menjadi salah satu alasan munculnya ide, wacana dan gagasan tentang Generasi Emas 2045. Istilah ini digaungkan bukan tanpa sebab, pasalnya ada satu harta karun yang sejatinya bisa menjadi modal untuk kelangsungan bangsa dan negara ini kedepannya, bernama bonus demografi. Pada tahun 2045, Indonesia akan mendapatkan bonus demografi yaitu jumlah penduduk Indonesia 70%-nya dalam usia produktif (15-64 tahun), sedangkan sisanya 30% merupakan penduduk yang tidak produktif (usia dibawah 14 tahun dan diatas 65 tahun) pada periode tahun 2020-2045.

Maka bonus demografi ini yang akan mengalami adalah para putra-putri bangsa ketika memasuki usia produktif, yakni posisi mereka adalah posisi strategis, posisi para pemuda harapan bangsa, yang akan turut hadir dalam memakmurkan bumi pertiwi ini, sang Proklamator Indonesia sering menggaungkan kata-kata motivasi ini”Beri aku 1000 orang tua, niscaya akan kucabut semeru dari akarnya. Beri aku 10 pemuda niscaya akan kuguncangkan dunia”. Betapa visionernya apa yang diungkapkan, dalam kata-kata Mutiara pun dikatakan :

اِنَّ فِى يَدِ الشُّبَانِ أَمْرُ اْلاُمَّـةِ * وَفِـىْ أَقْـدَامِهِـمْ حَيَاتُهَـا          “Di tangan para pemuda tergenggamlah urusan umat, dan pada kaki merekalah akan berdiri kehidupan umat”.

Lembaga tertinggi dalam Pendidikan pun paling terdepan, karena pucuk pimpinan ini sekaligus pemegang kebijakan dalam bidangnya yaitu Kemendikbud, berbicara mengenai generasi emas, telah mengangkat tema “Bangkitnya Generasi Emas Indonesia”. Generasi emas sendiri merupakan generasi yang mampu bersaing secara global dengan bermodalkan kecerdasan yang komprehensif antara lain produktif, inovatif, damai dalam interaksi sosialnya, sehat dan menyehatkan dalam interaksi alamnya, dan berperadaban unggul. Hal ini merupakan harapan terbesar bangsa Indonesia di tahun 2045 nanti. Bukan tanpa perhitungan dalam merumuskan cita-cita ini, dalam upaya mewujudkan generasi emas ini Indonesia didukung dengan kondisi demografi dimana usia produktif paling tinggi di usia anak-anak dan orang tua.

Lalu siapakah yang termasuk dalam golongan generasi emas ? Apakah peserta didik SMA calon mahasiswa termasuk di dalamnya? Jawabannya adalah iya, peserta didik SMA calon mahasiswa merupakan generasi emas bangsa yang seringkali digambarkan sebagai sosok unggul, pilihan, kreatif dan memilki integritas tinggi serta intelektual yang luar bisa. Ketika mereka menjadi mahasiswa, itu merupakan awal pergerakan, pergerakan peradaban, pergerakan pemikiran, pergerakan idealisme. Mahasiswa bukan hanya sebagai penggerak terhebat tetapi juga kelompok intelektual yang memilki pemikiran yang layak diperhitungkan. Idealisme kuat, kritis, kreatif tetapi tidak anarkis menjadi kekuatan mahasiswa. Maka layak mahasiswa sebagai Generasi Emas. Generasi perintis perubahan dalam rangka membentuk kehidupan dan peradaban bangsa yang dinamis ke arah yang lebih baik.

Pantas disebut generasi bangsa 2045 adalah sebuah generasi yang secara intelektual mampu untuk merubah bangsa ini ke arah yang lebih baik, pandai dalam memanfaatkan peluang yang ada, dan secara sosio-kultural ”tetap santun dan hormat” terhadap keberagaman khasanah kearifan lokal, sehingga berani berpikir global dan ber aksi local “Think globaly act locally” yang telah membentuk jatidirinya sebagai bangsa yang beradab. Untuk membentuk generasi yang sedemikian rupa, perlunya dukungan pemerintah untuk turun tangan langsung dalam membantu generasi muda dalam mencapai Indonesia emas 2045.

Generasi tersebut harus terus membantu pemerintah, jadi bukan hanya pemerintah yang terus berjuang, namun yang paling penting adalah dari pemuda itu sendiri, yang mau berubah untuk bangsa ini, karena generasi sekarang kebanyakan membuang waktunya untuk hal-hal yang kurang untuk menguntungkan bangsa. Harapannya generasi sekarang maupun yang akan datang dapat memiliki strategi pembelajaran yang berdaya internasional. Oleh karena itu, diharapkan mampu memadukan dua kekuatan karakter generasional yang bersifat komplementer, yaitu “ekologisme” personal dan sosio-kultural, dan “egoisme” keilmuan dan teknologi apalagi generasi sekarang adalah generasi digital di era industri 4.0.

Tantangan Sekolah Berbasis Riset

Oleh Drs. Jenal Al Purkon, M. Pd.

Tantangan Sekolah BerbasisRiset (Bagian II)

(Sumber: Strategi FAST dalam Menumbuhkembangkan Budaya Riset Berkarakter-BEST PRACTICE-Diajukan untuk Mengikuti Pemilihan-Kepala SMA BerprestasiTingkat Nasional 2017)

Permasalahan Guru

Guru sebagai sumber daya kependidikan mempunyai peran yang signifikan dalam pendidikan. Begitu pula di SMA Al Muttaqin. Umumnya, guru SMA Al Muttaqin masih fresh graduate, rerata usia 20–30-an tahun. Sebagian kecil berusia di atas 40 tahun.

Kompetensi guru dengan latar belakang sesuai bidang keilmuan, dari total 44guru,  95% sudah sesuai. Mereka berasal dari jurusan kependidikan dan nonkependidikan, serta sesuai dengan mata pelajaran yang diampu.

Kondisi tersebut menjadi sebuah tantangan yang harus dikembangkan. Jika tidak mampu dilakukan tata kelola yang baik, hal ini akan menjadi sumber masalah. Sebaliknya, jika mampu dikelola dengan baik, tentu saja hal ini menjadi potensi yang mampu menggerakkan cita visi sekolah yang maksimal.

Permasalahan Peserta didik

Peserta didik di sekolah yang penulis pimpin memiliki latar belakang yang berbeda-beda. baik dari segi budaya, ekonomi, maupun kemampuan akademisnya.

Jika dilihat dari segi budaya, peserta didik SMA Al Muttaqin berasal dari daerah yang memiliki budaya yang beraneka ragam, yakni  kultur perkotaan dan pedesaan, kultur keagamaan keluarga yang ketat berbaur dengan kultur keagamaan yang longgar, dan sebagainya.

Namun, jika dilihat dari segi ekonomi, umumnya, peserta didik berasal dari keluarga yang memiliki taraf ekonomi tingkat menengah. Orang cukup berada di kampung. Sebagian kecil berasal dari keluarga kurang mampu.

Jika dilihat dari segi akademik, yakni sumber potensi peserta didik saat PPDB (Penerimaan Peserta Didik Baru), terdapat sejumlah peserta didik yang memiliki potensi akademik yang baik, seperti mantan juara OSN tingkat kota, 10 besar pararlel tingkat sekolah, sebagian memiliki kemampuan bahasa Inggris yang baik, serta terdapat pula siswa yang sudah memiliki potensi hafalan alquran sebanyak 1 hingga 10 juz. Mereka umumnya menjadikan SMA Al Muttaqin sebagai piliha pertama.

Selain itu, terdapat pula sumber potensi siswa memilih sekolah Al Muttaqin sebagai pilihan  kedua atau ketiga. Dengan kata lain, mereka tidak diterima di SMA negeri. Bahkan, ada yang menjadi siswa karena pilihan paksa orang tua. Mereka biasanya merupakan siswa yang tergolong biasa-biasa saja dalam prestasi akademik.

Kondisi ini merupakan tantangan bagi sekolah yang penulis pimpin untuk mampu menjadikan peserta didik tersebut memiliki kemampuan yang berkualitas. Heterogenitas perbedaan kultur dan potensi akademik, harus mampu diramu dengan baik dalam sejumlah program. Harapannya, ketika lulus, para stakeholder, khususnya siswa dan orang tua , merasakan kebermanfaatan sekolah di Al Muttaqin.

Keterbatasan Sarana Prasarana

Sarana prasarana sekolah merupakan salah satu faktor pendukung yang akan memudahkan upaya untuk mencapai prestasi. Idealnya, dengan terpenuhinya sarana prasarana di sekolah, hal ini akan memberikan dampak positif terhadap proses pembelajaran.

Selama ini, di SMA Al Muttaqin sarana dan prasarana belum memenuhi kriteria yang ideal, seperti laboratorium IPA. Hal ini ditandai dengan penggabungan sejumlah laboratorium, yakni laboratorium fisika digabung dengan kimia.

Sementara itu,  laboratorium bahasa masih tergabung dengan laboratorium komputer. Semua komputer dimultifungsikan sebagai perangkat untuk kebutuhan praktik bahasa asing. Akibatnya, laboratorium komputer menjadi laboratorium multimedia.

Penggabungan laboratorium ini disebabkan ruang KBM yang terbatas, sementara  peminat terus bertambah. Konsekuensinya, laboratorium komputer menjadi multifungjuga, yakni dipakai juga untuk ruang kelas.

Dari tiga komponen permasalahan yang dimiliki, yakni guru, siswa, dan sarana tersebut, sekolah harus tetap tumbuh berkembang menjadi lebih  baik dan unggul.  Sekolah punya cita, bagaimana melahirkan outcome/para lulusan yang memiliki jiwa riset/peneliti, mampu memecahkan problem-problem yang ada, dan kelak mampu berkontribusi bagi ummat dan bangsa masa depan, memiliki karakter yang baik, berakhlakul karimah.

MENDIDIK DENGAN CINTA ITU ASYIK

Oleh Aef Saefuloh, S.Pd., M.Pd.I

Pendidikan merupakan kebutuhan yang sangat mendesak bagi semua kalangan baik formal,informal mapun nonformal. Pendidikan menjadi faktor terpenting dan mempunyai tujuan mulia yaitu agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, ahklak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara. Sudah seharusnya pendidikan ditempatkan dalam barisan terdepan dalam membangun suatu peradaban. Tapi, kerap terlupakan bahwa dalam membangun iklim Pendidikan yang mampu melahirkan generasi-generasi demikian membutuhkan guru yang profesional.

Yang Maha Kuasa telah menciptakan manusia dengan penuh kesempurnaan dan sebaik-baiknya, sebagaimana firmanNya dalam Q.S At Tin/95:4: لَقَدْ خَلَقْنَا ٱلْإِنسَٰنَ فِىٓ أَحْسَنِ تَقْوِيمٍ Tafsir Quran Surat At-Tin Ayat 4. Sungguh Kami telah menciptakan manusia dengan sebaik-baik ciptaan dan seindah-indahnya rupa. Tafsir Al-Mukhtashar / Markaz Tafsir Riyadh, di bawah pengawasan Syaikh Dr. Shalih bin Abdullah bin Humaid (Imam Masjidil Haram) 1-6. Allah bersumpah dengan tin dan zaitun,keduanya termasuk buah buahan yang masyhur, Allah bersumpah Juga dengan gunung Thursina (Sinai) yang disana Allah berbicara kepada Musa alaihi salam secara langsung, Allah bersumpah Juga dengan negeri yang aman dari segala ketakutan (yaitu Makkah) tempat turunnya wahyu. Sungguh kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang terbaik, kemudian Kami mengembalikannya ke neraka bila dia tidak patuh kepada Allah dan tidak mengikuti para rasul. Akan tetapi orang-orang yang beriman dan beramal shalih, mereka mendapatkan pahala besar yang tidak terputus dan tidak dikurangi.

Tafsir Al-Muyassar / Kementerian Agama Saudi Arabia لَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنسٰنَ فِىٓ أَحْسَنِ تَقْوِيمٍ (sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya) Allah menciptakannya dengan tubuh yang tegak, sehingga dapat memakan makanannnya dengan tangan; dan Allah menciptakannya dengan kemampuan memahami, berbicara, mengatur, dan berbuat bijak, sehingga memungkinkannya menjadi khalifah di muka bumi sebagaimana yang Allah kehendaki.

Zubdatut Tafsir Min Fathil Qadir / Syaikh Dr. Muhammad Sulaiman Al Asyqar, mudarris tafsir Universitas Islam Madinah Siapapun yang dapat mentadabburi firman Allah : { لَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنْسَانَ فِي أَحْسَنِ تَقْوِيمٍ } dia tidak akan berani untuk menghinakan manusia ciptaan Allah, dan tidak pula ia akan menghinakan setiap makhluk ciptaan Allah yang dipuji oleh-Nya.

Apa yang terjadi di lapangan mungkin karena keterbatasan ilmu yang didapat atau pengetahuan yang terbatas akhirnya mengatakan Tuhan ini tidak adil dengan gampangnya dia mengucapkan, padahal semua yang diciptakan olehNya tidak asal-asalan dan sia-sia.

Berarti siapapun orangnya baik orang tua maupun pengajar sekaligus pendidik bukan hanya transfer ilmu saja, melainkan ada tambahan lebih dalam tugas yaitu menyisipkan cinta dan menghadirkan di dalamnya dengan tujuan mempola keinginannya untuk menjadi berpengetahuan dan bertingkah laku yang baik (akhlakul karimah).

Mendidik dengan cinta, bermaksud untuk tidak mengklasifikasikan dalam mendidik anak baik di rumah maupun di sekolah atau tepatnya non formal maupun formal, melainkan akan menghadirkan yang spesial baik peserta didik yang berkebutuhan khusus ataupun tidak.

Pada dasarnya hak untuk mendapatkan pendidikan itu sama tidak ada perbedaan, sebagaimana tercantum dalam UUD 1945 pasal 31 ayat (1) “setiap warga negara berhak mendapatkan pendidikan”, dengan demikian tidak ada alasan untuk lembaga pendidikan baik formal maupun informal untuk tidak melayani pendidikan kepada mereka.

Pada Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional, Pasal 5 ayat (1) yang menegaskan “setiap warga negara mempunyai hak yang sama untuk memperoleh pendidikan yang bermutu”. Undang-undang inilah yang menjadi bukti kuat hadirnya pendidikan inklusi ditengah masyarakat.

Peraturan lain yang mendukung untuk keberlangsungan Pendidikan, antara lain :

  1. Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 32 Tahun 2008 tentang Standar Kualifikasi Akademik dan Kompetensi Guru Pendidikan Khusus;
  2. Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 70 Tahun 2009 tentang Pendidikan Inklusif bagi Peserta Didik yang Memiliki Kelainan dan Memiliki Potensi Kecerdasan dan/atau Bakat Istimewa;
  3. Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 72 Tahun 2013 tentang Penyelenggaraan Pendidikan Layanan Khusus; dan
  4. Peraturan Menteri Peraturan Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 23 Tahun 2015 tentang Penumbuhan Budi Pekerti.

Pendidikan menjadi tanggungjawab dan kajian bersama, serta pemahaman umum bahwa pendidikan menjadi faktor terpenting dalam membangun kepribadian manusia. Di samping itu, dengan pendidikan pula sasaran yang ingin dicapai oleh sebuah peradaban akan bisa direalisasikan. Apalagi jika kita mengaca kepada dinamika yang berkembang dewasa ini, ketika semakin besar kerusakan datang menyapa, pendidikan menjadi komoditi utama. Pendidikan seakan menjadi sumber primer dan bahkan sebagai makanan pokok. Dalam perkembangan seperti sekarang ini, pendidikan mendapatkan perhatian yang besar. Akan tetapi, tidak bisa dipungkiri, jika pendidikan yang berkembang saat ini juga kerap menanggalkan dan meninggalkan para anak didik dalam kubangan pesimisme. Oleh karena itu, tidak jarang pula kita menyaksikan banyak anak didik yang merasa kesepian di tengah keramaian dan perkembangan zaman seperti yang terjadi sekarang ini.

Agenda pembangunan pendidikan suatu bangsa tidak akan pernah berhenti dan selesai. Ibarat patah tumbuh hilang berganti, selesai memecahkan suatu masalah, muncul masalah lain yang kadang tidak kalah rumitnya. Begitu pula hasil dari sebuah strategi pemecahan masalah pendidikan yang ada, tidak jarang justru mengundang masalah baru yang jauh lebih rumit dari masalah awal. Itulah sebabnya pembangunan bidang pendidikan tidak akan pernah ada batasnya. Selama manusia ada persoalan pendidikan tidak akan pernah hilang dari wacana suatu bangsa. Oleh karena itu, agenda pembangunan sektor pendidikan selalu ada dan berkembang sesuai dengan dinamika kehidupan masyarakat suatu bangsa.

Dalam upaya mewujudkan agenda tersebut maka dibutuhkan adanya kelancaran terhadap aspek-aspek pendukung lancarnya proses pembelajaran. Adapun salah satu aspek pendukung lancarnya proses pembelajaran adalah aspek pemenuhan kebutuhan psikologis (aktualisasi diri) yaitu kebutuhan akan cinta, pendekatan psikologis yaitu mengajak dan mengarahkan manusia untuk berpikir induktif dan deduktif. Guru sebagai faktor utama dalam pendidikan kurang memahami kebutuhan peserta didik akan kasih sayang. Guru seolah-olah tidak peduli dengan aspek psikologis siswa ketika mengajar sehingga timbul kesenjangan hubungan antara guru dan murid yang mengakibatkan terjadinya rasa bosan dan jenuh ketika guru mengajar. Guru juga dianggap sebagai monster yang menakutkan, siswa merasa takut ketika guru mulai membuka pelajaran.

Spiritualitas istilah yang sering didengar dan sirna dari permukaan, kata tersebut padahal sejuta makna yang dapat melahirkan cinta. Jangan seolah cinta selalu berakhir dengan penyesalan. Karena tugas cinta untuk manusia ialah menjaga keteraturan sebuah interaksi manusia dan dunia, hanya saja yang seringkali kita temukan, adalah manusia yang menempatkan cinta dengan salah. Karena tanda kehidupan modern, salah satunya kehilangan kekuatan spiritualitas (iman). Di sinilah perlu penguatan peran agama, pendidikan, keluarga, pemerintah, serta seluruh kelompok masyarakat saling merangkul sebagai tanda kekuatan bangsa kita, yang akan menguatkan akar-akar pondasi sistem budaya sehat dan menyehatkan yaitu sehat berfikir, sehat berdzikir dan sehat dalam beramal yang akhirnya dapat berfungsi menyehatkan segalanya dalam kehidupan yang walaupun sifatnya fana.

Generasi muda merupakan generasi emas yang akan menentukan keberlangsungan hidup bangsa beberapa tahun kedepan, sehingga generasi ini jangan sampai terjerumus bahkan sampai terjerembap kepada jurang yang berbahaya yang tidak diinginkan, sehingga kehadiran cinta pada generasi tersebut seolah tidak nampak dan tanpa daya, padahal dinantikan.

Berbuat baik kepada orang yang biasa berbuat baik kepada kita, bukanlah perbuatan yang luar biasa, melainkan perbuatan biasa saja, yang akan menjadi luar biasa bila kita berbuat baik kepada orang yang telah berbuat jahat kepada kita, hal ini selaras dengan perkataan Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami ayahku, telah menceritakan kepada kami Isa ibnu Ja’far Qadi Ar-Ray, telah menceritakan kepada kami Abu Ja’far Ar-Razi, dari Al-Mugirah, dari Asy-Sya’bi yang mengatakan bahwa Isa putra Maryam pernah berkata, “Sesungguhnya kebaikan yang hakiki ialah bila kamu berbuat baik terhadap orang yang berbuat jahat terhadap dirimu, dan bukanlah kebaikan yang hakiki itu bila kamu berbuat baik kepada orang yang telah berbuat baik kepadamu.” Hanya Allah-lah Yang Maha Mengetahui“.

Kebaikan dan cinta pun akan muncul dengan sendirinya alias reflek dalam kehidupan, Kita tidak sendiri, menikmati hidup di negara yang majemuk oleh keragaman, juga persoalan. Peserta didik yang “nakal” salah satunya, dia adalah bagian dari manusia juga yang mengenal cinta pada tiap pencarian identitas dirinya. Sayangnya, banyak orang mendefinisikan mengenai cinta, merasai, menikmati, menghayati, hingga yang dicapai bukanlah cinta yang sejati atau yang membenarkan. Tapi terlalu basah, hingga jika terkilir sedikit saja cinta dapat merubah madu menjadi bisa.

Upaya untuk meluruskan cinta dalam mendidik itu, penulis mencoba menawarkan alternatif untuk mempertahankan madu tersebut melakukan tindakan preventif, yang diharapkan menjadi penawar sebelum bisa menjalar luas di kemudian hari.

Budaya Riset Berkarakter SMA Al Muttaqin

Oleh Drs. Jenal Alpurkon, M.Pd.

SMA Al Muttaqin merupakan sekolah yang menggabungkan konsep fullday school dan berasrama sehingga  memiliki karakteristik tersendiri yang berbeda dengan sekolah pada umumnya.

Peserta didik yang memilih program fullday adalah yang berasal dari dalam kota, sedangkan yang memilih program asrama pada umumnya berasal dari luar kota, seperti dari Jawa Tengah, Sulawesi Tenggara, dan Sumatera Selatan.

Dua program sekolah tersebut memunculkan dinamisasi tersendiri dalam mewujudkan penegakkan disiplin peserta didik atau peningkatan karakter akhlakul karimah.

Bagi peserta didik yang tinggal di asrama, pola budaya pesantren bisa diterapkan. Aktivitas rutin terpadu dari mulai bangun tidur, bersekolah, belajar muatan keagamaan, hingga tidur. Berbagai  program tersebut terkondisikan dalam kurikulum pesantren. Sementara itu, bagi yang tidak di asrama, pola pembiasaan akhlakul karimah hanya bisa diterapkan pada jam selama KBM.

Ada dua kondisi yang menyertai dari dua pilihan program sekolah tersebut. Bagi yang berasrama atau pesantren, peserta didik sering merasa jenuh. Sebabnya, lingkungan yang terbatas menjadi permasalahan sehingga peserta didik bolos tidak KBM.

Selain itu, beban yang dirasa berat atas ketercapaian target program asrama. Hal ini  tidak jarang membuat peserta didi kabur, melakukan tindakan-tindakan yang negatif, atau kegiatan lainnya yang jauh dari harapan atau tujuan sekolah. Ssementara itu, untuk peserta didik fullday, pola interaksi dengan dunia luar yang dominan dibawa ke sekolah. Sejumlah peserta didik merasa jenuh dengan system fullday.

Sejak 2011 penulis telah tiga periode menjabat sebagai kepala sekolah. Penulis memiliki tanggung jawab yang besar untuk menjadikan SMA Al Muttaqin menjadi sekolah yang berkualitas. Sekolah yang berkualitas dicirikan dengan peserta didiknya yang berkarakter akhlak mulia dan lulusannya banyak yang melanjutkan ke jenjang perguruan tinggi.

Untuk itu, penulis telah mencanangkan salah satu ikon unggulan, yakni sekolah riset. Hal ini sesuai dengan cita visi dan misi sekolah. SMA Al Muttaqin, yakni menjadi sekolah unggul dan terdepan di Jawa Barat dalam akhlak mulia dan  menjadi outcome perguruan tinggi unggulan,

Guna mencapai hal tersebut tidaklah mudah. Apalagi, tantangan era teknologi informasi (Revolusi Industri 4.0) yang menuntut peserta didik memiliki kompetensi di berbagai bidang (Society 5.0). Berbagai  strategi atau langkah-langkah yang cocok dengan kondisi dan keadaan para peserta didik perlu disiapkan. Penulis berpandangan bahwa peserta didik adalah komponen utama sekolah yang harus dikembangkan dan diperjuangkan. (3/11)

Model Soal Asesmen

Oleh Nizar Machyuzaar

AMQ Lovers, Pemerintah, melalui Kemdikbud, akan melakukan evaluasi atas penyelenggaraan pendidikan di Indonesia. Ada pergeseran sudut pandang evaluasi yang dilakukan Kemdikbud, yaitu dari tes evaluatif seperti pada penyelenggaraan Ujian Nasional atau UN (menguji apa yang telah dipelajari) ke tes prediktif seperti yang akan diselenggarakan pada Asesmen Nasional (AN) pada bulan Maret 2021 nanti (menguji apa yang akan dipelajari).

Meski diniatkan sebagai survei atas penyelenggaraan pendidikan, hasil AN menjadi bahan evaluasi Kemdikbud dalam menentukan konsep pendidikan ke depan. Selain itu, hasil AN, yang juga mengikutsertakan guru dan kepala sekolah, dapat menjadi umpan balik bagi setiap satuan pendidikan (sekolah) untuk menilai ketercapaian visi dan misi sekolah dan mengambil kebijakan strategis dalam pelaksanaan pembelajaran. Yang menarik, hasil AN juga dapat menjadi data graduatif dan kualitatif atas klasifikasi sekolah.

Selain itu, AMQ Lovers, dari segi materi uji, sebagai contoh di tingkat SMA/SMK, tes evaluatif UN berdasar pada kompetensi mata ajar yang mendasari rumpun keilmuan yang diminati peserta didik, yakni peminatan Matematika dan Ilmu Alam, peminatan Ilmu sosial, dan  peminatan Bahasa dan Budaya. Sementara itu, untuk AN, materi uji menyertakan dua materi yang tidak berdasar pada materi ajar atau kurikulum dalam peminatan  rumpun keilmuan peserta didik. AN menyertakan materi uji yang mendasari semua mata ajar yang diselenggarakan di sekolah, yaitu kemampuan memahami teks (literasi dasar baca-tulis) dan kemampuan memahami operasi hitung dasar angka (literasi menghitung atau numerasi). Berikut adalah bagan konsep AN.

Sumber https://pusmenjar.kemdikbud.go.id

Literasi dan numerasi ini menjadi kecakapan dasar siswa yang harus dikuasai sehingga peserta didik dapat memahami dengan cepat dan tepat, bahkan dapat menemukan sisi aplikatif dan solutif atas apa pun keilmuan yang dipelajari. Atas dasar ini, pemerintah membuat istilah Asesmen Kompetensi Minimum yang menyasar siswa kelas V SD, VIII SMP, dan IX SMA/SMK.

Dalam laman https://pusmenjar.kemdikbud.go.id AKM dijelaskan sebagai berikut, “Asesmen Kompetensi Minimum (AKM) merupakan penilaian kompetensi mendasar yang diperlukan oleh semua murid untuk mampu mengembangkan kapasitas diri dan berpartisipasi positif pada masyarakat. Terdapat dua kompetensi mendasar yang diukur AKM, yaitu literasi membaca dan literasi matematika (numerasi). Baik pada literasi membaca maupun numerasi, kompetensi yang dinilai mencakup keterampilan berpikir logis-sistematis, keterampilan bernalar menggunakan konsep dan pengetahuan yang telah dipelajari, serta keterampilan memilah serta mengolah informasi. AKM menyajikan masalah-masalah dengan beragam konteks yang diharapkan mampu diselesaikan oleh murid menggunakan kompetensi literasi membaca dan numerasi yang dimilikinya.”

Harapannya, ketika mereka naik ke tingkat terakhir, sekolah dapat membuat strategi pembelajaran yang dibutuhkan peserta didik setelah mempelajari pemetaan hasil AKM. Selanjutnya, dalam laman tersebut dinyatakan tujuan AKM sebagai berikut, “AKM dimaksudkan untuk mengukur kompetensi secara mendalam, tidak sekedar penguasaan konten. Literasi membaca didefinisikan sebagai kemampuan untuk memahami, menggunakan, mengevaluasi, merefleksikan berbagai jenis teks tertulis untuk mengembangkan kapasitas individu sebagai warga Indonesia dan warga dunia serta untuk dapat berkontribusi secara produktif kepada masyarakat. Numerasi adalah kemampuan berpikir menggunakan konsep, prosedur, fakta, dan alat matematika untuk menyelesaikan masalah sehari-hari pada berbagai jenis konteks yang relevan untuk individu sebagai warga Indonesia dan warga dunia.”

Selain itu, dalam laman tersebut dipaparkan juga komponen materi uji AKM yang meliputi tiga materi uji, yakni (1) literasi membaca teks informasi, (2) literasi membaca teks fiksi, dan (3) literasi menghitung atau numerasi. Secara rinci ketiga komponen tersebut dipaparkan dalam tabel berikut ini.

Nah, AMQ Lovers, Kita harus mempersiapkan diri untuk menghadapi AKM yang direncanakan pelaksanaannya pada bulan Maret 2021. Semua stakeholder di satuan pendidikan, yakni sekolah mulai dari SD, SMP, SMA/SMK akan menjawab soal-soal AKM sebagai program survei Kemdikbud untuk evaluasi pelaksanaan pembelajaran di Indonesia. (NZ)

Ada Apa dengan Asesmen

Oleh Nizar Machyuzaar

AMQ lovers, Pemerintah melalui Kemdikbud membuat kebijakan baru. Ujian Nasioal (UN) ditiadakan. Penggantinya Asesmen Nasional (AN). Pelaksanaanya menyasar tingkat V SD, VIII SMP, dan XI SMA/SMK. Tujuannya memberi gambaran atas capaian pelaksanaan pembelajaran di sekolah di tingkat akhir, yakni kelas VI SD, IV SMP, dan XII SMA/SMK. So, sekolah dapat melakukan evaluasi di tingkat akhir peserta didik dalam menyelesaikan pembelajarannya.

 

AMQ Lovers, Kebijakan baru ini tidak hanya diikuti siswa, tetapi juga guru dan kepala sekolah. Dengan AN ini pemerintah melakukan survei di lingkungan satuan pendidikan (sekolah). Hasilnya akan dijadikan evaluasi atas penyelenggaraan pendidikan dari tingkat satuan pendidikan, daerah, sampai nasional. Meski diniatkan sebagai survei pemetaan, tampaknya pemerintah akan mengolah hasil AN dalam klasifikasi kualitas sekolah. Hal ini tentu bagus untuk memacu kinerja sekolah dalam memberika pelayanan pendidikan.

 

Lalu, materi apa yang diujikan AN? AMQ Lovers, laman resmi Kemdikbud memberi kisi-kisi materi uji AN yang disebut kompetensi minimum, yakni kompetensi dasar dalam membaca (literasi) dan menghitung (numerasi). Dua kompetensi dasar ini dapat menjadi modalitas peserta didik, guru pengampu pelajaran, dan kepala sekolah dalam memproduksi dan mengonsumsi teks, terutama informasi di internet (konten). Apalagi, Revolusi Industri (RI) 4.0 mengarah pada digitasi dan digitalisasi informasi. Dengan kata lain, prasyarat literasi dasar (baca-tulis) dan literasi menghitung (numerasi) menjadi modal kita dalam berinteraksi dalam literasi sains (ilmu pengetahuan), literasi finansial (keuangan), literasi digital (teknologi informasi), dan literasi budaya dan kewargaan (interaksi sosial dan budaya).

 

AMQ Lovers, hal ini menandai perubahan pola hidup mekanis ala RI 4.0 yang mereduksi nilai kemanusiaan ke kesadaran baru. Sebuah kesadaran akan pentingnya kembali berinteraksi dengan alam dan sesama. Kecanggihan teknologi hanya menjadi alat kita bereksistensi dan berkarya dalam hidup. Sebab, kita adalah warga sah sebuah bangsa (citizen), bukan hanya warga media sosial (netizen). Kesadaran baru ini sering kita sebut dengan era society 5.0. (22/10/20-NK).